Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2013

"Titik"


 1 : VERSUS

Pantai…

“Pantai… suansananya panas. Pengecualian, panas alami. Tapi, tempat yang paling menyenangkan. Dan… tapi, tempat yang selalu dirindukan oleh banyak orang yang menyukai pantai”.

“Akan ku berikan untukmu, ketika kau berada di pantai. Yah… keindahan pantai itu tak ternilai yang tak terhingga. Tak percaya?... ikutiku!. Oke, sebelumnya, akan ku perkenalkan juga, bahwa pantai akan menghipnotismu dalam dunia kedamaian. Masih tak percaya?, oke.. oke… tunggu sebantar, satu lagi… yang terakhir, pantai akan membangkitkanmu dalam suatu kekaguman pada sang pencipta. Tak percaya? Masih tak percaya? Mari kita rasakan bersama, akan ku bagi itu semua”. Ngomong, ngajak tah tau kesiapa, depan cermin, kebiasaannya. Dia lahir di daerah Pantai. Rafasa. Anak pantai…


Gunung…

“Aku bukan anak gunung. Yang terlahir digunung, yang tinggal digunung, bahkan aku tak pernah merasakan naik gunung. Tak mengenali suasananya”. Mengangkat kedua bahu, kedua tangan, memicingkan mata.

Ada yang bisa berbagi? Seperti apa itu gunung? Tentunya berbeda dengan pantai. Pasti.

Tapi ternyata stetmenya sama. Seperti yang digambarkan. Gunung membawa keindahan, membawa kedamaian, dan membawa kekaguman kepada Sang Pencipta.

“Sejuk… bahkan… jika malam lalu beranjak pagi, dingin mencekam. Ketika pagi beranjak merangkak ke siang… maka nyanyian burung, membangkitkan semangat. Gemercikan air,  Gesekan daun atar daun hemmm mengalahkan biola yang merdu. Menenangkan jiwa. Dengan merentangkan kedua tangan, memejamkan mata, mulai menghirup – perlahan. mulai – terasa terbang”. memperagakan diatas meja dosen.

“hei… saat siang lalu menghampiri sore, burung-burung pun tetap menyanyikan, riuh-riuh menghasilkan harmoni. Menandakan satu-dua ingin berkenalan, jatuh cinta hhaha. Alam disana ditakdirkan membawa kedamaian. Akan menjamin kehidupan yang tenang. Tapi… tergantung orang tersebut, jika akan mengganggu kedamain yang telah diberikan. Maka… mereka tak member ampun, membalasnya… kesetanan”. Seperti melantunkan sebuah dongeng, dan tiba-tiba sang pencerita gunung, ah bukan pencerita gunung… tapi memang ia terlahir di gunung, Giano… anak gunung. Berubah mimik beramarah. “dan… itulah alamku, gunung… pemberi ketangguhan bagi siapa yang berani!”.


Titik Tengah - Kota…

            Ketiga orang tersebut masih membahas Pantai – Gunung. Keduanya saling menjatuhkan. Yang satu terlihat mengangguk-ngaguk, entah mengerti entah tidak. Polos. Terlahir di Kota, Regan… anak Kota. Anak polos bijaksana.

“yahhh.. namun bagaimanapun… Bahwa, dimana orang yang terlihat berada digunung, maka orang tersebut adalah tangguh. Berbeda dengan pantai, dimana orang terlihat dipantai apalagi ditepian pantai, maka orang tersebut sedang berleha-leha... malas, pe-ma-las hha” dengan mengibas-ngibaskan tangannya berlahan-pelan dihamparan angin. Menegaskan sang berleha-leha yang digambarkan. Lalu tertawa pelan melecehkan. “hei ia gan?” Giano mencari pendukung.

“Hei!...” Rafasa mencoba memotong dan menjelaskan.

“heh ga baik potong-potong… tenanglah Raf… memang benarkan seperti itu?”. nada memancing. “heh… lu kan yang suruh gue cerita? Ya memang begitulah perbedaan dari Pantai dan Gunung Raf”. Giano tersenyum manis pertanda melecehkan.

“Owww… anjrit banget ni orang. Hei! Gue ga ngajak lu ribut! Cerita sih cerita, tapi gak usah ngejelek-jelekin tanpa lo tau yang sebenernya. Pernah kepantai aja belum! Sialan lu”. Muka bĂȘte Rafa mulai nyala.

 “eh-eh-ehh.. lupa pada yaa… aneh gue, baru kali ini gue liat lu-lu pada debatin yang ga penting, ga bermutu tau. Terus gak nanya gimana keadaan dikota, itu kan tempat kelahiran gue ahhh ga care nih… huh! Pantai-gunung-pantai-gunung terus aja debatin itu”. Mencoba menengahi tapi tetep tuh anak jeles, iri juga.

Serentak Rafasa dan Giano menolak “GAK PEN-TING!!!”. Sebenernya ngapain juga Rafasa dan Giano nanya-nyanya ngebahas tentang Kota, toh mereka sedang merasakan keadaan diKota, yang menurutnya sumpek, pengap, bau, kotor, hah tak ada indahnya. Tapi perlu dikeritisi supaya ada perubahan kan. Kota yang mereka jejaki sekarang, sebenernya kepaksa. Tuntutan orang tua. Untuk kuliah. Niat kuliah sih, tapi jurusan yang mereka ingin, keinginan orang tua. Lagian mereka berdua, Rafasa dan Giano lebih senang, bahkan lebih bangga kalau kuliahnya itu di provinsi kelahirannya. Tanpa bisa menikmati keindahan, kedamaian, dan kekaguman Sang Pencipta Alam yang alami, natural.

Gondok yang masih dirasain Rafasa, dia coba lanjutin topic tadi tapi tanpa Regan. Giano, dengan mantap ngangguk-ngangguk “oke, tanpa Regan” sambil menunjukan sesosok Regan dengan dagunya, lalu tertawa.

Entah memang hujan uda reda, entah emang jeles si Regan pamit pulang duluan. “shit banget lu pada, yauda lanjut aja tuh debat kalian, gue pulang duluan guys… jangan ada yang nebeng!!! Puas lo?! Hhaha”.

Terbirit-biritlah si Rafasa dan Giano inget uang di dompet mulai tipis, ngejar-ngejar Regan minta tumpangan. “Gan…Gan… tunggu nape? Gue mau emmm nebeng, kan lu tau isi dompet gue uda tipis, yah… emm emang dah lu ma orang yang paling baek sedunie su’ran dah”. Dan bcicitcicitcicitcitcicitcitcitcit si Giano ngolo-ngolo1 minta nebeng, yang kepaksa mohon-mohon minta nebeng, yang sebenernya ogah dan anti banget dengan mohon-mohon. Giano tipe orang yang cu’ek, tampilannya ngasal tapi bikin cwe-cwe kampus kelepek-kelepek. Gaya orang pendaki gunung, kekampus pun dia hobby pake sepatu gunungnya, celana jins, dan kaos berkerah. Dipadukan dengan jaket sport yang selalu gonta-ganti karna emang hobbynya koleksi jaket. Ditambah ransel dominan hitam berpolet merah yang menandakan berani. Jam tangan, kalung dan gelang yang selalu menjadi ciri khas dia. Gagah.

Disusul Rafasa giliran dia yang mohon-mohon. Beda ama si Giano, Rafasa lebih ga gengsian, malah pas mohon-mohon buat nebeng, dia juga mohon minta diteraktirin makan yang berbau seafood. “yah… yahhh… ajakin gue makan, beneran perut gue keroncongan gak papalah ama ikan asin juga…” dandanan Rafasa bisa dibilang cuek juga kalo dibanding ama cwe kota yang berpenampilan rapi, maching sesuai jaman tapi kadang sebagian ada yang rempong. Tapi, walau begitu dia terlihat cantik, putih walau dia terlahir dipantai, berwajah pirus, berambut galling agak pirang, tinggi, cocoknya sih kalo jadi model. Tapi Rafasa tidak berkeingin untuk seperti itu.  Tapi sayang terlihat cantik, dan elok namun dibalik itu dia cwe super duper blo’on. Cwe yang ga bisa nangkep sekali duakali penjelasan, setidaknya tiga kali. Tapi banyak tuh cwo-cwo yang ingin nyantol ke dia.

Untuk Regan, dia cwo perfect. Beda ama Rafasa dan Giano. Soal penampilan dia lebih memperhatikan. Malah sering perawatan. Rapi banget penampilannya tu, eh bukan penampilannya aja… tapi kamarnya yang bukan lagi segede lapang bola tapi segede lapang golf… rapi bener, tertata apik. Walau dia bisa dibilang perfect, tetep dia terlahir jadi malaikat buat Rafasa dan Giano yang satu lagi terlahir tidak menyombongi atas apa yang dia miliki. Ramah. Dia juga sama banyak fans cwe-cwe kampus.

“oke.. oke.. mana bisa sih gue nolak, apalagi liat dua orang depan geu sekarat, sekarat dompet maksudnya sob… tapi ngomong-ngomong ga jadi nih lanjutin debatnya?” mereka tertawa. Refasa dan Giano saling tatap. “oh masalah itu dipending dulu, yang penting isi perut…” sambil menepuk-nepuk peruk kemplengnya, dan tertawa lagi. “hemmm untuk itu gue setuju ama lu Raf, gue tunggu lanjutan debat kita di chat nanti malem!” Giano nantangin “oke!” tersenyum getir. Dan memasuki mobil.











Kamis, 13 September 2012

"PIPIT ALZHEIMER"



            Namaku Pipit. Saya berumur 18 tahun. Anak wanita satu-satunya dari dua bersaudara. Wanita periang, lucu, emmmm cantik juga. Wanita yang mengganggap dirinya normal. Wanita yang tidak mempunyai penyakit serius. Tapi terkadang penyakit lupa ini menggangguku hhe itu anggap hal yang biasa bagiku.
            Periang dan lucu. Itu semua hanya anggapan orang yang hanya melihat diriku dari luar. Betapa tidak. Bunda yang seharusnya selalu menemaniku, kini ia pergi dengan gaun, mahkota, dan sayap-sayap yang cantik menghiasinya. Entah… alasan apa bunda meninggalkan aku, kakak, dan ayah. Padahal jika bunda tau, kami… kami masih membutuhkanmu bunda…
Jika engkau ada, aku akan selalu memberikan senyuman terindah untukmu bunda…  
Jika engkau ada, aku tak akan membiarkan air mata bunda menetes… bahkan mengalir, tak akan ku biarkan bunda…
Jika engkau ada, aku akan menyayangimu… meski, meski kasih sayang bunda takkan terganti, takkan terbanding…
Jika engkau ada, aku… aku rindu engkau bunda…
Rindu pelukanmu…
Rindu belaianmu…
Rindu kasih sayangmu…
Rindu semua yang ada pada mu, bunda…
Aku rindu…
            Iya!, saya ingin bunda kembali untukku, untuk kami, keluarga kecil kami. Dan saya hanya ingin bunda kembali, jika itu bundaku. Bukan yang lain. Tapi… entah, ayah terlalu mempedulikanku hingga ia membawa bunda baru. Bunda yang hanya menganggap anaknya sebagai kacung, bunda yang tidak ada sebutir pasir pun kasih sayangnya, bunda yang tidak ada belaian untuk anaknya tapi hanyalah tamparan yang mendarat dipipi ini. Padahal yang ku ingin bukan pengganti bunda, tapi aku hanya ingin bunda ku seorang, yang tidak ingin bunda ku digantikan, ayah…
            Mungkin anda menganggap kisah atau takdir atau perjalanan hidup ku seperti Cinderlella. Hampir mirip. Tapi dalam sekenario hidup ku tak ada kakak tiri. Hanyalah bunda tiri, yang bahkan melipat gandakan kejahatan ibu dan kakak-kakak dari kisah Cinderlella. Jauh berbeda. Kini aku merasakan kepedihan adanya bunda tiri dalam hidupku. Entah apa yang diinginkan bunda tiriku… Harta? Kekayaan? Tahta? Atau yang berbentuk materi lainnya?, tidak mungkin! tidak mungkin itu yang ia inginkan!. Karna bunda tiriku bahkan lebih kaya dari ayah. Lalu apa?...
            Kejadian itu tidak membuat ku untuk murung dihadapan teman-temanku. Karna hidupku dihadapan mereka sayalah periang.
***
            Entah… kepalaku akhir-akhir ini sering pusing. Bahkan mata normalku, sekarang… lebih terasa perih, buram, terkadang mata ini tidak suka dengan cahaya banyak, Ia akan mudah lelah. Aku takut… takut mata normal ku ini terjadi sesuatu. Hingga ayahlah yang menemaniku berobat. Dan hasilnya, saya bersyukur sekali tidak minus. Tapi… dokter memberi rujukan untuk di periksa pada bagian kepalaku yang sering pusing, mungkin itu akan berpengaruh pada mataku.
            Setelah mendapatkan hasil. Dokter hanya berbicara empat mata dengan ayah. Sedangkan aku… aku hanya menunggu di lobby. Tapi setelah ayah keluar tidak membawa hasil scan pemeriksaanku. Ayah hanya ingin anaknya mengambil hasil scan itu dengan bersama-sama.
            Mendapat daun pintu ruanagan dokter, yang merasakan hal yang aneh. Tapi setelah saya masuk, dokter malah menyambutku dengan tutur-tuturnya yang ramah. Awal kami berbincang bincang ringan dengan bumbu tawa. Kemudian perbincangan kami mulai serius. berikutnya perbincangan kami, benar-benar pada tahap serius. yang membuat ku pusing, mata yang kurasakan mulai tidak jelas, bibir ini pun sudah berbicara solaholah tidak menerima, dan hati ini pun memberontak, hingga tubuh ini bergemetar refleks. Tidak mungkin aku mengidap kanker jaringan otak!, bahkan mengidap penyakit alzhemer!... yang menyebabkan aku sering lupa. Dan penyebab itu karna adanya tekakanan, dan sering menerima benturan benda keras.
Apa aku harus menerima ini semua?... tapi nyatanya diriku harus menerima. Tapi bagaimana aku menerima ini semua. Aku masih berumur 18 tahun. Tidak mungkin, bahkan beranggapan dokter salah bahwa saya mengidap penyakit Alzheimer. Sindrom itu hanya untuk orang tua yang telah lanjut usia. Dokter salah memeriksa ku. Mana mungkin pula aku punya penyakit kanker.  
            Tapi… seakan-akan Alzheimer ini benar-benar meradang. Akhir-akhir ini Benar-benar aku sangat ingin selalu bersama bunda tiriku, padahal bunda tiri tetap saja bersikap macam macan mengaung agar mendapatkan mangsanya. Tapi entah perasaan ini selalu berontak memberi sinyal bahwa bunda tiri adalah jahat namun aku terkadang menentang itu, tapi terkadang sadar dengan sikapku… aku ini bersikap macam apa…
            Aku ingin menjadi dan tetap menjadi wanita normal. saat aku… bisa menyusul dan bertemu bunda… bunda nyataku bunda yang rindukan. Dan mengakhiri kesengsaraan ini.

#Ini cerita nape jadi kesini…. Nyasar ini

Sabtu, 21 April 2012

"Surat Amak (Salah Alamat)"


           Surat yang pernah diterima oleh amaknya yaitu dari Farhan yang sekarang babanya temen aku. Dulu nih katanya pas masa puber tepatnya masa SMA, amak menerima sepucuk surat yang penuh dengan puisi dari Farhan. Apa yaaa isinya? Hha. Isinya… tentang kekaguman Farhan kepada amak tepatnya dia sedang jatuh cinta. Wahhh amak akui kalo amak tuh seneng, tapi amak juga akui kalo dia cuma gadis kampung. Amak terlalu menyadarkan diri, amak Cuma wanita biasa-biasa yang ga pantes kalo bisa dapetin ketua OSIS, seperti Farhan.
            Surat balasan yang dikirim Farhan pada amak belum juga kunjung. Mungkin Farhan sempat berfikir, kalo amak ga akan suka sama orang kere seperti dia. Tapi Farhan masih penasaran. Takut-takut surat yang dikirim malah nyasar, ato malah ga nyampe ketangan amak. Kali ini Farhan benar-benar menyimpan surat itu ketas amak, untuk menyakini kali ini benar-benar terkirim.  Yang kebetulan waktu itu sedang istirahat.
            Lagi-lagi amak kaget dia mendapatkan surat keduanya yang berisi agar membalas surat pertamanya dari Farhan. Untuk kali ini, amak membalasnya. Amak menjelaskan tentang isi hatinya yang suka pada Farhan, namun amak juga jujur, karna dia ga pantas untuk dapetin ketua OSIS seperti dia.
            Langsung, amak berikan surat balasan itu ketangan Farhan. Sontak kaget diliat dari wajah Farhan yang mengkerutkan alisnya “apa ini?” dengan wajah bingung, Farhan menerima surat tersebut. “itu… baca saja” kata amak yang gugup, malu-malu, pipi yang memerah. Anggukan amak menandakan pamit sambil berlalu. Farhan yang terus meneliti apa isi surat yang diberikan amak.
            Menyobek ujung amplop dengan hati-hati. Akhirnya ia mendapatkan selembar kertas dengan tulisan miring tipis tebal rapi.
            Kaget. Farhan setelah membaca seluruh isi surat yang dilontarkan amak yang sepenuh hati ia curahkan pada surat itu. “untuk pertama kali, aku dapat surat pengakuan dari seorang wanita, bahwa dia mengagumiku, dan untuk pertama kali juga baru aku tau ada wanita yang melontarkan isi hatinya dengan berani…”. Kebingungan Farhan seakan-akan leleh dengan pengakuan amak. Ia membalas tentang kebingungannya, tapi juga ia mengakui perasaannya pada amak, dia juga suka pada amak.
            Surat balasan dari Farhan, langsung dikirim ke rumah amak. Lewat celah bawah bibir pintu. Amak langsung membaca surat balasan itu. Dengan penuh tanda tanya, senang, campur aduk. “kali ini puisi apa yang Farhan buat untukku?” amak yang mengharapkan puisi dari surat balasannya. Untuk kali ini, amak merasa aneh. Dari tulisan pertama sampai akhir, tulisan yang amak lihat merasa beda dari surat pertama dan kedua. Puisi yang amak tunggu pun tak ada dalam surat kali yang amak pegang. Bahkan isinya pun menjurus, bahwa amak wanita yang pemberani dengan pengungkapan hatinya. Maksudnya wanita yang menembak (menyatakan perasaan) pada laki-laki. “Padahal jelas-jelas Farhanlah yang menyatakan cinta pertama padaku, ko ini malah jadi terbalik, apa yang salah?”. Amak masih bingung dengan surat ketiga yang dipegangnya. “Apa jangan-jangan ini surat salah kirim?” selewat pertanyaan yang buat amat tambah bingung “lalu siapa Farhan yang sebenarnya?”.
            Surat balasan kali ini tidak panjang lebar. Amak hanya meminta Farhan untuk menemuinya disuatu tempat. Untuk mengklarifikasi.
                                                                        ***
             Ternyata memang benar. Surat yang tulisan rapi, penuh dengan puisi, bukan dari Farhan ketua OSIS, tapi Farhan yang lain, Farhan yang amak tidak ketahui sebelumnya. Yang amak tau hanya satu Farhan disekolahnya, sebagai ketua OSIS.



            Kalo jaman dulu, surat-surattan itu paling laku buat pe’de’ka’te’an. Nah kisah surat-suratan itu pernah dijalani juga oleh amak dan babanya temen aku. Yang sekarang jadi suami istri. Farhan Ketua OSIS yang sekarang jadi suami amak.

Uyay… maapin kalo ceritanya dilebayin hhaha J Ceritanya juga jadi melenceng wkwkwk bae'laaaaaah hha

Sabtu, 14 April 2012

"Sepenggal Surat Darinya..."


assalamualaikum... 
Hei… senyum dong!!!
Betapa indahnya jika kau tak meneteskan lebih banyak air matamu itu, cantik… maafkan aku, jika kau sedang menangis, aku tak bisa berbuat apa-apa. Bukan aku tidak mempedulikanmu. Taukah?, karna jika aku bertanya dan mempedulikanmu, pasti kamu akan lebih menjadi, tangisanmu semakin tak bisa dihentikan, aku tak mau air matamu itu sia-sia dari sebuah kekecewanmu. Yang paling aku aneh darimu jika aku menyuruhmu untuk berhenti, kamu bilang menangis itu akan menyehatkan. Apakah itu alasannya?. Jika terlalu banyak menangis pun tak baik lov…
Jujur… cinta pertama untukku dan cinta terakhir untukku adalah dirimu. Disetiap hubungan, orang-orang yang berpasangan tentunya menginginkan kesetian pada pasangannya. Aku pun akan melakukan itu untukmu. Bukan karna umurku yang tak lama ini. Tapi aku benar mencintaimu, sayang padamu lov. Tapi aku tegaskan padamu, kamu jangan terlalu setia padaku,. kamu berhak untuk mendapatkan lelaki yang benar-benar mencintaimu, sayang padamu, lebih dariku. Aku… akan bahagia.
Bahagia lah… tetaplah menjadi pribadi yang nyaman pada dirimu, dan orang-orang. Pertahankan senyumanmu. Jagalah air matamu dari sebuah kekecewanmu, kemarahanmu, dan keterpurukanmu, untuk air mata yang menetes dalam sebuah kebahagian.
Maafkan aku… 
bahagiakanlah dirimu...

wassalam...
Bandung, 24 September 2011

M.R P 

Jumat, 13 April 2012

"tiga tahun terjawab, pergi lebih dari itu"


Tiga tahun tejawab, Pergi lebih dari itu
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita, kini ada didunia berbeda
Bila masih mungkin waktu kuputar
Kan ku tunggu dirimu…

Biarlah kusimpan…
Sampai nanti aku…
Kan ada disana…
Tenanglah dirimu, dalam kedamaian
Ingatlah cintaku…
Kau tak terlihat lagi…
Namun cintamu abadi…

          Tingginya berada dalam suasana sore yang begitu tenang, bahagia. Kenyataan tiga tahun yang kutunggu, ku inginkan kini terjawab. Tak menyangka. Keberanian yang kini aku ketahui. Senang?, bahkan lebih dari senang, bahagia?, lebih dari bahagia yang kurasa saat itu.
Tiba-tiba mengajakku yang masih dengan sikap cu’eknya, benarkah?. “jangan bercanda’lah… hari ini ibu lagi dirumah”. Terkejut saat ia akan meminta ijin pada ibu tuk jalan bareng ama anaknya. serus? Hahhhh… bingung apa sih maksudnya. Setau ku dia orang yang jarang bersosialisasi. Dia orang yang bener-bener penuh rahasia, buat penasaran, sampe-sampe waktu tiga tahun kurang ia baru menjelaskan. Dan benar, hari itu pun ia dateng kerumah. Sebelumnya ibu yang membuka pintu. Terdengar suara yang akrab seperti obroran teman sebaya, dan dengan bumbu tawaan yang sepercik. Mengkerutkan dahi. Siapa tamu yang ibu ajak obrol, sampe terdengar akrab?, tak mempedulikannya, hanya sekilas.
Selang beberapa menit ibu langsung buka pintu kamar. “ayooo, cepet siap-siap temen kamu lagi nunggu tuh”. Teman?, setahuku… hari ini ga ada acara ataupun jajian. Menengok dari lantai atas ternyata dia… wah… berarti yang tadi ngobrol ama ibu?. Turun langsung dari lantai atas “kamu seruis?”. Muka cu’eknya masih melekat hanya anggukan yang ia jawab. Menuju kamar yang masih penuh ribuan pertanyaan, ada apa ini sebenarnya, seneng sih, apalagi kalo mengingat obrolan dengan ibu yang begitu akrab. Padahal baru saling mengenal.
 Bukit, tempat yang begitu tinggi, udara yang sejuk, suasana sore yang begitu tenang membuat hari itu benar, benar, benar seneng, nyaman. Aku ga menyangka sikap yang aku ketahui selama tiga tahun kurang, menunjukan bahwa sebenarnyalah dia seperti itu nyatanya, hangat. Gugup, hening, tiba-tiba “inilah jawabanku”. Menatap matanya yang mulai berkaca-kaca dibalik kaca matanya. “hah? Tiga tahun ini kah?”. Dengan gugup ia menjelaskannya. Selama tiga tahun kurang ini, dia pun sama perasaannya. Dia menjelaskan selama dalam waktu tiga tahun ini dengan keadaanya. Cukup tenang dengan ungkapannya. Namun berasa barat dengan penjelasan yang ia beri tahukan.
  Lebih terbuka sejak kejadian kemarin. Yang aku kenal kini ia tuh orang yang begitu romantis, hangat, suka ngelucu juga. Beda sebelumnya orang yang begitu cu’ek, dingin, akhhh nyebelin’lah pokoknya.  Kami juga mengenal keluarga masing-masing. Lebih dekat dan akrab dengan ayahnya jika sedang mengobrol. Begitupun dia akrab dengan ayah dan ibu, tapi lebih akrab lagi dengan ibu. Namun disetiap aku ngobrol dengan ayahnya, pasti membahas kalo aku harus siap untuk kedepannya. Aku mengerti, aku juga akan mencoba itu, menerima itu.
Bukit itu menjadi tempat peraduan kita. Suka, duka, bahagia, sedih, ada masalah, atau apapun kita berada disana, selain tempat peraduan kami, tempat ibadah. Beberapa waktu, aku ingat perkataan ayahnya. Aku mulai takut, untuk kehilangannya. Aku sudah terlanjur untuk menerima apa adanya, namun untuk menerima ia pergi aku tak sanggup. Tak bisa menceritakan apa yang sedang kurasa pada dia, aku datang kebukit itu. Suasana sore, yang berbeda dengan suasana saat pertama kali aku datang dengannya. Sejuk menjadi berasa mencekam. Awan yang menghitam, mata pun ikut mendung. Air mata ini mulai jatuh, dan air hujan pertama, kedua,ketiga, dan semakin deras., yang berasa dunia ini merasakan keadaanku. Sakit untuk menerimanya pergi, semakin hati ini tak mau untuk ditinggalkanya air mata ini smakin mengalir. Tuhan… tolonglah beri kesempatan waktu yang lebih lama untuk bisa bersamanya…
            Pundak kanan yang tiba-tiba berasa hangat dengan tangan yang membelokan badan ku kearahnya. Kaget. Sepontan mengusap air mata ini. “kenapa?... ” wajahnya yang ingin membuatku lebih menagis tak ingin melihat wajah itu pergi. “ga papa, a’a’aku baik-baik aja ko, emang kenapa gitu?hhe”. jarinya yang langsung mengusap air mata ini yang menyatu dengan air hujan, langsung mengusap kepalaku, yang ia ketahui bahwa diriku sedang berbohong, “aku akan baik-baik aja”. Kali ini benar-benar pecah air mata tak bisa menahan depan dia.
            Beberapa bulan menjalani. Kini baru aku menyadari bahwa dia akan benar-benar pergi. Bagaimana dengan ku?. Keadaannya seminggu kemarin yang membuatku khawatir kini mulai kembali pulih.
            Macam-macam Coklat ia kumpulkan. Tak menyangka, perkiraan yang melenceng yang begitu cepat. Ia benar-benar pergi untuk slamanya. Kabar itu, benar-benar menusukku, menghantamku, benar-benar sakit, lebih dari sakit, sakit, sakit…. Hanya tertunduk, menahan semua tangis air mata ini, melihat orang yang begitu aku tunggu selama tiga tahun kurang untuk tidak disisiku selamanya. Yang begitu akrab dengan ibu, sekarang? Tiada…
            Tujuh hari kepergiannya. Ayahnya memberiku sebuah kotak. “kotak ini dari ******, dia tidak sempat memberikannya langsung. Sebelum dia pergi, dia ingin mengucapkan salam bahwa dia sangat menyayangimu nak, dia juga minta maaf atas kekurangannya”. Mendengar itu, aku bahagia, aku nahan air mata ini, untuk mencoba mengikhlaskannya.
            Membuka kotaknya aku begitu sedih, benar-benar tidak bisa menahan tangisan. Terharu dengan usahanya, ketika kotak itu berisi kumpulan macam-macam coklat yang ia kumpulkan. Ada beberapa surat, sebelum kami jadian. Yang tak terungkap selama tiga tahun kurang ini. Ternyata kenyataannya ia lebih-lebih dari perasaanku terhadapnya.
            Dirimu, yang kutunggu selama tiga tahun. Diriku bersabar. Namun sekarang diriku harus lebih bersabar, untuk bertemu ditempat yang tinggi yang lebih indah.

Jelaskan kepadaku
Mengapa takdir ini yang terjadi
Saat ku mengerti artinya mencinta
Secepat surga menginginkannya
Tuhan kembalikan dia padaku
Karna ku tak sanggup berada jauh darinya
kirimkan malaikat cinta untuknya
Sampaikan pesan dariku yang selalu merindunya

Jumat, 06 April 2012

"Tatapan"


Penampilannya sangat sederhana. Namun itu yang membuat diriku terpukau. Hemmm, melihatnya... apa yaaa???, dari gaya rambut seperti Justin Bieber hhaha enga deng, pokoknya gaya rambut yang aku ga tau itu apa namanya, rambut lurus sedikit galing-galing ga lepek dan rapi sesuai model jamannya lah. Matanya… seperti almond dibalik kaca mata itu yang aku ngefens dari dia, tatapannya tajam mengisyaratkan ada sesuatu hal ingin disampaikan. Hidung mancung, perpaduan pipi dan bentuk wajah yang sesuai. Badannya ga gemuk ga kurus juga, sedang-sedang lah, tinggi, kulitnya… kulit tropis, Indonesia bangetlah, emmm… kalo dari segi penampilannya dia tuuuh bersih, rapi, wangi, dan yang aku suka, dia tuh bisa mempadukan warna dan gaya sesuai bodynya. Ciri khas dia tu, kalo sekolah suka pake jaket, ato ga didouble kemeja si seragam sekolahnya tuh. Ga begitu bisa mengdeskripsikan dia tuh seperti apa hhehe.
            Bicara tentang kaca mata. Tah tau kenapa, enak aja gitu… kalo liat orang yang berkacamata, tapi pilihan juga lah. Biasanya orang berkacamata itu ulet, pinter, emmm ada yang ngomong juga biasanya pendiam, katanya sih. Itu khusus buat orang yang berkaca matanya emang karna minus atau apalah, bukan karna alay.
            Beda kalo jaman sekarang tuh. Kebanyakan orang yang sekarang pake kaca mata, bukan karna emang minus atau apalah, tapinya karna gaya-gayaan. Ehhh tapi yang aku liat, mereka tuh gaya-gayaannya  aduhhhh hampir ke’alay #ups hihi mending gitu yaa kalo sikaca matanya bermerk, lah ini? Hhaha
             Kembali. Perubahan yang begitu cukup drastis bagi saya. Dan tentunya perubahan itu alhamdullilah yang membuat diriku nyaman dan orang lain pun nyaman dengan perubahanku, semoga perubahan ini pun bisa menjadi inspirasi atau pun motivasi bagi semua. Sebenarnya perubahan itu, niat awal karna ingin menjadi wanita sholeh untuk dia. Namun, ini kehidupanku untuk kebaikan sekarang dan nanti, aku ubah posisi niat ini. Menjadi dia yang kedua.  Senang… perubahan ini pun didukung oleh dia, “selamat, pasti kamu bisa melewati semua”. Aku tau maksudnya dia. Konsekuensi perubahan ini, yang harus diperkuat iman.
***
            Sepatu Vans bercorak warna hitam, merah, putih atau Sepatu Adidas yang dominan warna putih yang dipadukan warna biru langit dan hitam itu yang menjadi patokanku kalo dia ada. Dan memang benar dia ada. Perkenalan awal karna tatapan tajam dibalik kaca matanya yang menyorot bola mataku. Huhhhh tangan ini dingin sekali. Gugup? Yaaaa, Terpaku? Terpukau? Hahhhh semua itu ada, nampak sekali.
            Apa pulalah ini perasaan yang aku rasa?, Sama kah seperti dia?. Menunggu apa yang ingin dia katakan. Kenapa?, isyarat tatapannya itu loh buat penasaran. Yaaa seperti ada yang ingin disampaikan. Setiap ada tatapan itu, setiap pula bibirnya ingin menyampaikan sesuatu… namun apalah kesempatan waktu tak memberikan.
            “tunggu saja waktunya!, sabar ”. empat kata, yang membuat aku semakin penasaran. Apa maksudnya? Ga ngerti akunya. Lama, menunggu apa yang ingin disampaikan. Ternyata hanya ingin menyampaikan “tunggu saja waktunya, sabar…”. Sampai saat ini, masih menggantung apa maksud perkataan itu. Aku akan tunggu, kepastian dari kata-katamu, meski waktu sudah tiga tahun berlalu.

Meriliriknya suatu keinginan, untukku…
Menatapnya suatu kekaguman, bagiku…
Membaui aromanya suatu ketenangan dalam jiwaku…
Merindukannya suatu keterbiasaan dalam hidupku…

"emmm... kejelasan apa yang ingin disampaikan?"
                                                                

Sabtu, 17 Maret 2012

"muncul.. tiga tahun"


Tiga tahun … kembali ia menyapa.

Benci, ga suka, bĂȘte… lagian dia ngeliatin aja. Apa karna ada yang salah ama penampilannya? Ga ahhh perasan, tapi ko tiap hari sih ngeliatinnya? Apa emang aneh setiap hari?, halahhhh risih kan…

Tapi suka… penampilannya yang rapi, bersih, wangi, sedikit cu’ek… nah loh??? Kan kepikiran. Husssss pergi-pergi !!!. yahhh untung lah perasaan ini ga sampe lebih jauh… jauh… dan lebih jauh hahha

Ko… orang lain buru-buru keluar ngejar waktu istirahat, nah ini masih nyantai ngedo’a, siapa sihhh?... penasaran. Udah beberapa hari solat, ngeliat tu orang nyantai banget yaa, siapa sihhh? Rajin, subhanallah sekali, hhe… ga peduli ahhh siapa-siapanya, bagus dong masih ada orang yang kaya gitu.

Jeng-jeng… kagetkan, ternyata tu cwo yang rajin masih diem dimesjid dengan keadaan tertuduk tuuuu orang dia ternyata!!!, wahhhh ko jadi beda yaa perasaannya. Akhhhh ga! Ga bisa!!! we ga boleh, ga boleh suka ama dia, jangan sampe jangan sampe plisssss.

Emang ga bisa bo’ong nih hati. Sejak itu ko aku makin ngefens yaaa, sering curi-curi pandang juga. Kan…kan… tuh kannnnnn o’ooow giliran aku deh yang suka ngeliatin akhhhhhhh.

Lahhh ketaun deh ama temen, hemmm malu kan malu… mana disebarin lagi, YAAAAKKK!!!, akhirnya dia tau kan we suka dia, matilah. Bener-bener ihhh malu atuuuu kalo ketemu dia. Malunya tu tingkat satuan PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK, MA, UNIVERSITAS walah dibungkus mang! Loh??? #abaikan

Sejauh itu emang kita jadi kenal, #acieeeee… tapi tau kah?, kita Cuma menyapa hanya dengan menatap satu sama lain, ga lebih dari itu.

Yang paling aku seneng, pas dia ngucapin “happy birthday… maap telat, sukses yaa…” yaa itu emang Cuma beberapa kata bung!, tapi itu yang buat we senenggggggg banget. Tau ga? Aku dari malem (hari ha ultah) nunggu dia yang ucapin yang pertama, tapi ditunggu… ditunggu ehhh ga muncul-muncul, dan pada akhirnya dia yang terkhir yang ngucapin, yaaa sebagai penutup itung-itung.

Nahhh sejak message itu, we sering tuh sharing ama dia. Tapi ga lama itu pun. Kita uda punya kehidupan masing-masing #cailleeee…

Emmm seneng banget. Pagi-pagi… malah subuh-subuh tu dapet massage dari dia waahhh ga kebendung lah senengnya. Kenapa? karna dia baru muncul lagi. Setelah tiga tahun…

 Mudah-mudahan dia baik-baik aja.

“em, dulu aku pernah bartanya sendiri dalam kesunyian… apakah mungkin hanya mengandalkan sapaan mata bisa bersatu?, dulu tiada yang bisa memberikan jawaban. Sekarang?, tidak pula…”

#mumet keburu L

Sabtu, 10 Desember 2011

Growing Love haaheehooh ~_~"

Growing Love Haaheehooh
Cinta…
Keinginanku, saat melirikmu…
Kekagumanku, saat menatapmu…
Ketenanganku, saat membaui aromamu…
Kebiasaanku, saat merindukanmu…
Kasih…
Jika kau tau…
Melirikmu, menghilangkan penatku…
Menatapmu, mengobati keterpurukanku…
Membaui aromamu, menghilangkan kebosananku…
Dan,,,
Merindukanmu, membuat hangat dijiwa…


#depan perpus
“hei… kamu?!!!”
Sennyi yang langsung balik badan, dan nunjuk kearah mukanya.
“ya kamu!, kamu kelas 12 IPA C-kan?’
Sennyi yang masih bungkam, hanya memberi jawaban dengan bahasa tubuhnya, maksudnya dengan menganggukan kepalanya.
“tadi bu Welly bilang, kalo dia ga bias masuk, dan tugasnya bias diambil di petugas piket Pa Warso. Tolong sebarkan tugas itu ke temen-temen kamu!”.
“oh… iya, ma-makasih!”.
Sambil berlalu Eza menganggukan kepalanya, pertanda balasan ucapan makasih dari Sennyi.
“haaaa… gue seneng banget’lah…, ga nyangka bias hadep-hadepan, ngobrol, ama natap dia. Selama dua tahun ini baru kali ini, hemmm… gue liat muka dia dari deket aaaaaaaaaa!!!, pengen lagi!”.
“heh!, gue seneng liat muka lu, tadi biasa deket ama siEza!, tapi muka lu tuh ga nahan… wkwkwk”
 “hemmm… lu yang liat gue aja seneng, apalagi gue yang rasain, tapinya tadi muka gue ga malu-maluin’kan?”.
“ckckckkck… muka lu tuh ga control bangetlah, muka lu ampe mangap-mangap wkwkwkkw…”. Mizan sahabat Sennyi emang kocak, jail, tapinya sohib’lah.
“ahhh lu tu, tapi ga apalah yang penting mah gue bias deket ama dia, hemmm”. Sennyi yang megang kedua pipinya sambil senyum-senyum menis manja.

# Pulang Sekolah…
“oh iya Zan, hari nig a pulang bareng lu. Gue ada perlu dulu”.
“emh.. apa mau gue anter?”.
“haa, makasih deh ga uasah!”.
“yaudah, hati-hati aja lu!”
“iya… iya…!”.
Diperjalanan Sennyi masih ingat rekaman saat-saat Eza manggil dia.
“hemmm… Tuhan, hari ini aku bahagiaaaa banget. Makasih, semoga akau dan Eza lebih bias menjalin hubungan yang lebih baik lagi”.
Sampai ditempat tujuan (took buku) Sennyi langsung liat novel-novel yang diincarnya, dan saat membuka-buka novel, dia mengkerutkan keningnya.
“ko berasa hapal ya… suara jalannya, suaranya, dan baunya…???, jangan-jangan…?!”. Senyyi yang masih tertunduk mencermati suara itu.
“itu… tu… yang novelnya yang lagi popular, keren’lah isinya!”.
“emh… kalo yang itu aku juga udah baca!”. Alasan jawaban Eza pada pacarnya, yang tidak terlalu meresponya.
“gaak… jangan-jangan itu Eza?!”, apa gue liat kebelakang aja ya?, ahhh tapi… haduhhuuuh!”. Sennyi yang penesaran denga suara si cwo itu. “ahh, dia udah pergi”. Sambil melirik kebelakang, dan… “benar itu Eza!, huffft… ternyata dia belum putus ama cwenya, hemmmh”.
“ada membernya ba?”.
“ohh, ya ini ba..”.setelah selesai membayar, Sennyi langsung pergi ke caffe coklat.

# Caffe Coklat
“hampir dua taun gue ngejomlo nunggu siEza. Udah tau siEza punya cwe, tetep aja gue masih ngarep dia. Gue ga tau harus gimana. Eza… Eza…!”.
 Sambil melamun mengaduk-ngaduk Hot Coklatnya Sennyi tetep bergelut dengan hatinya. Dan tiba-tiba… Senyi menghentikan adukannya, dia langsung terfokus dengan suara cwo yang maki jelas terdengar.
“kamu mau pesen apa?”. Eza yang menawarkan pesanan mau pesen apa.
Kali ini Sennyi melihat kebelakang, tuk memastikan siapa suara itu…
Jreng…jreng… “EZA…!”. Sennyi yang keceplosan nyebut nama Eza, dan langsung menutup mulutnya.
Eza dan sang pacar langsung menyorot muka Sennyi. Disanalah mata Eza dan Sennyi bertatapan, tanpa mempedulikan si pacar Eza. Selang beberapa detik Sennyi tersadar dan langsung membawa tasnya.
“maaf..”. sambil berlalu Sennyi pergi meninggalkan mereka berdua.

#Di jalan
“huhh.. stupid.. stupid..stupid!!!, ko bias sih mulut gue keceplosan manggil dia, akkhhhh malu banget’lah gue. Haaaaaaah”.

Saat tiba di sekolah, Sennyi duduk dan menundukan kepalanya, otaknya masih berputar mengingat kejadian kemaren. Mizan tiba-tiba mengkagetkan Sennyi.
“dorrr!, kenapa lu se?”.
Sennyi yang bungkam hanya menggelengkan kepala.
“beda banget lu, kemaren aja masih seneng, ada apa si?”.
“nanti gue certita deh Zan , pas istirahat!”.
“sip, tapi lu baik-baik’kan?”.
“hemmm…”. Sennyi masih kelihatan murung atas kejadian kemaren. Pas pelajaran berlangsung pun, ga biasanya Sennyi jadi sosok yang pendiem, biasannya dia paling aktif+riweh kalo lagi belajar.

Tengnong…tengnong…tengnong…
Pukul 09.30 bel istirahat pun bordering, ehh bunnyi. Sambil duduk disebelah Sennyi, Mizan penasaran apa yang mau diomongin Sennyi.
“kenapa?, yoo ceriita!”.
“ga disini!, kita keperpus aja!”.

#perpustakaan
“ada apa sih?”.
“kemaren Zan, gue liat Eza lagi ama pacarnya…”.
“ terus?, eh lu tuh ya, udah tau si Eza udah punya cwe, masih aja lu ngarepin dia!”.
“denger dulu napa?!,… masalahnya bukanya gue cemburu atau apa, si Eza ama pacarnya jalan berdua, gue mah udah biasa liat pemandangan kaya gitu, tapi cemburu dikit sih, hehhe”.
“trus kenapa lu ngedadak suntuk kaya gitu?”.
Sennyi menceritakan kejadian kemaren dan ehhh malah si Miza menertawakan Sennyi.
“hahahaha… ah untung gue ga jadi ikut ama lu, bias-bisa gue kena malu juga hahahha”. Mizan yang ga control menertawakan Sennyi, ampe-ampe mereka di tegur sama penjaga perpus..
“tuhkan!, gara-gara lu ngetawain gue, jadinya kita kena malu+marah!”.
“hahha abisnya lu malu-maluin ckckckkc”.
Ternyata dibelakang bangku mereka ada Eza yang menguping pembicaraan mereka dari tadi.
“ternyata Mizan itu sobatnya Sennyi, gue kira pacarnya. Selama ini gue salah paham ama si Mizan”.
Mizan keluar perpus “Sen, gue keluar duluan yaa.. gue laper!”.
“yaudah sana pergi… awas yaa, kalo masih ngetawain!” ancam Sennyi pada Mizan.
Sambil berlalu Mizan mengejek-ngejek Sennyi. Selang beberapa menit Mizan meninggalkan Sennyi, tiba-tiba Eza datang manghampiri Sennyi dan duduk disebelah Sennyi.
“hah Eza?”. Sennyi yang kaget tiba-tiba orang yang dikecenginnya duduk disebelahnya.
Eza hanya membalas dengan senyumnya.
“za maaf soal kemaren”.
“emh… iya ga papa!”. Eza menjawab namun dia masih menunjukan sikap cu’eknya.
 Untuk pertama kalinya Sennyi biasa ngobrol bersama Eza, yang membuat Sennyi salah tingkah. Yah maklum’lah orang lagi ketinggang lope.
Saat bel masuk, Sennyi dan Eza bareng menuju kelas mereka, dan saat Mizan melihat mereka berdua berasa aneh. Mizan yang penasaran langsung melontarkan pertanyaan.
“heh, lu ko bias sih bareng ama si Eza?”.
“hiii… karna berkat lu yang ninggalin gue tadi sendiri diperpus!”.
“hah? Ko biasa?, tapi ya sudahlah, tapi gue mau ngingetin kalo si Eza tuh udah punya Cwe!”.
“iya… Zan, gue tuh ga ngarepin lagi kalo Eza tuh harus jadi Cwo gue. Gue udah bias jadi temennya pun juga udah seneng ko. Heheh!”.
“oke baguslah!”.

Saat pulang sekolah Sennyi dan Mizan melihat Eza dan pacarnya pulang jalan bareng. Disana Sennyi hanya biasa menjaga omongannya tadi, yang ga mau berharap lagi pada Eza. Mizan hanya bisa mengusap kepala Sennyi..
“hei, yuuu kita jalan?!”. Ajak Mizan ke Sennyi yang masih melihat Eza yang berlalu meningggakan dia.
“ya…!”. Sennyi hanya menjawab dengan senyum, yang tah’lah hatinya seperti apa.
“hei sen… cwo tuh masih banyak, ga hanya si Eza aja, liat gue… gue pun ga kalah ko ama si Eza!, hahah”. Mizan yang mencoba menghibur dengan rayuannya.
“ihhh lu tuh ya… ke’pe’de’an… gue tuh Cuma ngefensnya ama Eza bukan lu hahaha lagian dari rambutnya pun ga ada sama-samanya. Hahah”. Sennyi sambil mekul-mukul tangan Mizan yang so merayu-rayu.

 "so.. some one like you!"








Minggu, 27 November 2011

Keputusanmu=Ijinnya


KEPUTUSANMU = IJINNYA

Cipta: Heni Kurniati

Plip… “asalamualaikum, ya hallo?, gimana hasilnya sa”. Dengan nada bergetar dan ragaku yang terasa mau rubuk, #hahaha lebay
“walakumsalam hen, wahhhh selamat-selamat kamu keterima di PGSD UPI hen…”
“hah???, beneran sa?, awas ya kalo bo’ong!”. Perasaanku masih tak menyangka kalo aku keterima di PGSD UPI, soalnya aku pikir aku ga akan keterima lagian saingannya banyak.
Spontan aku loncat-loncat, kebahagianku datang air mataku seakan-akan menghiasi pipiku. Aku, aku ingat ini semua berkah yang Allah berikan. Ketika syukur mengiringi kebahagianku, yang kurasa saat itu semakin bergetar hati ini, semakin terasa berkah yang Allah berikan dan semakin air mataku mengalir mengiringi kebahagianku.
Rasa syukur yang ditemani malam yang terasa indah dengan senyuman bintang-bintang yang seolah-olah memberikan pertanda ucapan selamat padaku. Hatiku saat itu terasa paling bahagia, dan terasa bahwa Allah menemani kebahagianku yang kurasa saat itu.
Srettt, tubuhku terasa melayang, dan ternyata???, Ibu!, Ibuku memberikan senyuman renyah padaku. Ucapan selamat, dan pelukan yang hangat dan usapan tangan yang lembut yang ia berikan.
“de, selamat yaa.. ibu bangga!”, kamu harus selalu bersyukur pada Allah!”. Ibu menetskan air matanya untukku. Kami berdua terlarut dengan tangisan itu.
“bu, aku mau kewarnet, aku pengen mastiin kepastiaannya”.                                               
“jam segini?!”, ibu mengkerutkan keningnya, karna memang waktu menunjukan seperempat malam.
“ya  bu, lagian takutnya infonya ga jelas bu…”.
“yaudah ibu ikut anter, lagiankan ini udah malem”.
Sekali lagi… malam itu terasa damai. Ketika diperjalanan, aku pegang tangan ibu dan menyandarkan kepala dipundak ibu. Karna saat itu cuaca terasa dingin, namun hatiku terasa hangat.
#warnet… aku langsung menempati tempat yang kosong.
Tanpa basabasi aku ngambil card nomor 9, dan langsung membuka website SNMPTN Undangan. Dan… aku liat siapa saja yang terdaftar Di PGSD UPI, dan hasilnya….. bismilah…jreng…jreng kucari namaku “Heni Kurniati Nomor Peserta 411…” TIDAK ADA dipapan pengumuman website itu. Kuliat setiap sudut atas sampai bawah sampai kuulang dan kuulang, dan ternyata emang TIDAK ADA namaku disana.
Hufffftttt… helaan nafasku, membuat ibu penasaran apa yang terjadi.
“gimana hasilnya???”. Ibu penasaran.
Aku ingat… yak au ingat. Aku langsung liat kartu peserta SNMPTN Undangan, mataku langsung terbelalak melihat tulisan “PGPAUD Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia”, “akkkkkkkhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!, berarti selama ini aku salah milih jurusan. Bukan PGSD, melainkan PGPAUD… rasanya ingin teriak, AKU SALAH, AKU SALAH, DAN AKU SALAH…, kenapa aku ga teliti?!, akkhh, kenapa bisa gini yaa Allah?”. Aku terus bergelut dengan pertanyaan dihati.
“bu… aku ga keterima di PGSD, tapinya aku keterima diPGPAUD!”.
Sontak ibu kaget. “hah???, PGPAUD???, bukanya kamu daftar dijurusan PGSD?, kenapa jadi di PGPAUD?.
“ga tau bu aku juga…”, aku bingung, aku harus bagaimana. Mana aku harus cepat-capat daftar ulang, kalo ga aku dianggap memundurkan diri…
“kenapa kamu bisa milih PGPAUD?, emangnya kamu niat jadi guru TK?”. Kata-kata ibu bagaikan petir yang menyambar hatiku, dan apa dari maksud pertanyaan itu?, entahlah.
“ga tau, mungkin pas pendaftaran aku terburu-buru milih jurusannya”. Aku coba jelasin, sembari meraba kejadian pas pendaftaran. Seingat aku sih, emang aku terburu-buru, soalnya pas pendaftaran aku kesorean, malah mementingkan maen… aku nyesel itu!, sampe-sampe aku teledor. “yaudah jadinya sekarang aku nerima kesempatan itu atau aku tolak aja bu?”, aku pasang wajah tanpa beban, meski sebenarnya aku bingung, aku ga mau kalo sampe harus nolak kesempatan ini.
“yaudah, kamu tolak itu, dan ikut ujian yang berikutnya!”. Ibu semudah itu memberi keputusan, padahal selama ini aku ngikutin ujian itu sungguh-sungguh. Aku sadar, yaa aku sadar.. kalo aku teledor, ga teliti, tapi ga semudah itu aku bisa ngebatalin pintaan ibu. Sebenarnya aku berat dengan pilihan ini:
Pertama: apabila aku ga nerima kesempatan ini, sekolah SMAku yang rugi, sebab ade kelasku nantinya ga akan diberi kesempatan untuk masuk keuniversitas yang aku tolak.
Kedua: terus kalo aku ga nerima itu, aku harus ngikutin ujian berikutnya, dan tentunya peserta yang mengikuti ujian itu lebih banyak, lagian aku ngerasa pesimis ga akan lolos.
Ketiga: doa yang aku inginkan untuk meminta pengabulan dari Allah, aku hanya ingin… aku ingin ijin dan ridhonya Allah, supaya aku keterima di universitas yang aku pilih. Poin inilah yang saat itu membingungkanku, kenapa?, aku akan ngerasa bersalah, jika aku ga nerima kesempatan yang Allah tunjukan dengan ijinnya itu . karna sekali lagi, aku berdoa hanya ingin ijin dan ridhonya Allah. Apa yang harus aku lakukan???, jika aku memilih jawaban dari Allah berarti aku menentang keputusan ibu, namun jika aku memilih pilihan ibu, bagaimana dengan keputusan Allah, yang aku minta saat itu?, dan yang ku nantikan petunjuk dari ijinnya.
            Sudah beberapa malam, aku ngerasa malam-malamku dilema. Malamku saat itu aku hiasi hanya dengan kebingungan dan tangisan, namun tangisan ini aku sembunyikan dari pandangan ibu, aku ga mau ibu ngeliat aku nangis. Aku hanya nunjukan semua cerita ini hanya bersama Allah dimalam yang membuatku merasa lebih dekat meski aku malu pada-Nya.
Ketika aku tertidur, disana aku merasakan jawaban yang samar-samar, “aku akan milih keinginan ibu…”, karna yang aku tau, ridhonya Allah itu tergantung ridhonya orang tua. Aku tetapkan pilihan itu “bismilah semoga ini menjadi yang terbaik”.
#subuh
“de.. kamu abis nangis ya?!”ibu melihat mataku yang agak bengkak+sembab, karna tadi malam.
“ahh.. engga bu!, aku mah ngerssa ga enak badan aja, kayanya kurang tidur aja kali ya!, hehehe”. Sambil cengengesan, aku ga mau ibu tau kalo beberapa malam ini aku nangis wae’. “ohh iya bu… aku bakalan ikutan ujian berikutnya lagi, janji deh ga akan teledor lagi, yaa… hiii”.
“emhh, tapi ibu udah ijinin kamu nerima SNMPTN Undangan itu, tapi ibu minta, kalo malem-malem tuh jangan nangis-nangis lagi, kan dikira orang curiga ada apa malem-malem ada yang nangis, haha”. Ibu tertawa kecil, sembari mengusap kepalaku. Kuliat mata ibu berkaca-kaca, aku nangis dipelukan ibu. Dan kali ini benar-benar tangisan bahagia.
“alhamdulilah, terimakasih yaa Allah, karna keputusanmu ijin ibu pun mengalir, makasih yaa Allah, Ibu, dan semua”.