Senin, 28 Maret 2016

Aku dan Waktu Ke Satu



Aku ingat! Waktu itu adalah takdir yang menentukan untuk sampai pada titik ini dan sampai nanti.

Seperti apa waktu itu?

Kamu mengenakan kemeja batik, tepatnya saat pertama kali aku melihatmu. Kita pernah presentasi bareng di ruang kelas 32.3.01 FIP Gedung IDB. Disana kamu dan rekanmu membahas.. hmmm kalo ga salah materinya tentang violin yang berkaitan dengan anak usia dini, ya ga?. Tentu aku ingat, bukan ada maksud untuk apa-apa, tapi entahlah aku begitu memperhatikanmu saat presentasi. Mungkin inilah salah satu pertanda dari Allah, agar pertemuan kita selanjutnya aku mengenalmu.

Itu pertama kalinya 23 Desember 2011 aku Heni dari jurusan PGPAUD dan kamu entah bernama apa... Bertemu, saat aku menyadarinya sebelum berteman di dunia maya.

***

Memang lagi ngehitsnya media sosial Facebook, sampai pada jamannya itu beberapa anak SD sudah memiliki akunnya. Sampai-sampai dari ngebumingnya media sosial tersebut kadang disalahgunakan ya gara-gara suka chat ada yang diculiklah, ada pemerkosaanlah, adu argumenlah yang sampai macem-macem kasusnya dibawa kemeja hijau. Bukan hanya itu tapi gara-gara Facebook dimanfaatkan juga untuk usaha, berbagai informasi seputar pendidikan, kesehatan, sampai untuk saling bersilaturahmi, eits... ada juga yang sampe cinlok, CLBK, dan hal lainnya. Hmmm.. begitupun aku dan kamu. Tak lama hanya 1 bulan tepatnya 27 Januari 2012, Allah mengatur untuk kita saling mengenal kembali. Kita mulai bercengkrama di media sosial tersebut.

Seperti kebanyakan yang ngeAdd dikomfrim, ada ngewall “terimkasih” yaa macam itulah, seringnya diabaikan, ga dibales ga dilike. Nah... tibalah kamu ngeadd, oke aku komfrim, alasan aku liat dulu teman yang sama, dan teman yang aku kenal.  Kamu juga ngewall. Kurang lebih “terimakasih, salam kenal”. Dan... ga tau kenapa dilike. Malah sampe dibales juga. Oke, penasaran liat info tentang kamu, disana tercantum dari Sumedang, tinggal di Sumedang. Dan ga tercantum kamu kuliah dimana. Dan ga pernah kepikir itu kamu... kamu yang pernah presentasi bareng di mata kuliah yang sama. Maklum, waktu itu OL pake gratisan, pake Ziro.Facebook.com ya jadinya si Foto profil yang dikenakan tidak muncul.

Nah... mungkin seling dua hari dimana pertama kalinya kita berteman di Facebook, kebetulan aku OL di PC munculah percakapan kita di wall Facebookku, dimana foto profil yang kamu digunakan terihat dan sepertinya aku pernah melihatmu. Penasaran hingga akhirnya aku meminta konfirmasi apakah kamu memang yang pernah presentasi bareng dengan jurusanku saat itu. Ternyata benar, kamu adalah orang yang pernah aku lihat saat presentasi kala itu, kita satu kampus, pernah satu kelas juga malah, ga nyangka bagiku.  

Sering OL dan Chating bareng hari demi hari tanpa aku sadari, mungkin begitupun kamu, Aku merasakan kenyamanan saat bercengkrama membahas ini itu lewat chat tersebut. Kadang tak habis pikir, aku jadi sering OL, chatingan sama kamu, itupun sampe larut. sebetulnya... ga ada perasaan saat itu, OL ya OL, chating ya chating, ga da chating ya jadi timbul perasaan suka, ga ada. Atau apakah saat itu memang aku terlalu awam untuk mengenali perasaanku, tak paham artinya kenyamanan saat bercengkrama denganmu?

Hingga tiba saatnya kita bertemu.

Gugup kali kedua bagiku bertemu dengan sengaja denganmu. Bingung pakai baju mana yang cocok, bagaimana nanti kita bertemu, bagaimana kita mulai mengobrol, bagaimana kita selanjutnya setelah pertemuan ini... itu yang aku cemaskan, karena aku takut setelah pertemuan ini kamu tak nyaman senyaman dichatingan. Tapi sebenarnya itu tak seharusnya aku pikirkan.

Sampai saatnya kita janjian untuk bertemu. Pertemuan itu ternyata nyata, karna kita tak bertukaran nomor handphone, yang dikhawatirkan takutnya salah orang. Aku lupa tepat tanggal berapa, tapi hari itu adalah Rabu, kita bertemu dengan sengaja di Perpustakaan. Itu kali kedua aku melihatmu kembali. kita tak berbincang lama saat pertemuan itu, hanya sekeder saling mengenalkan diri dan masing-masing memberikan apa yang dibawa untuk kenang-kenangan.

Hari itu adalah bahagia bagiku. Aku senang bisa bertemu denganmu pada akhirnya. Entah bagaimana senang ini aku tunjukan pada dunia, dengan sendirinya muncul hingga temanku mengira aku sedang Falling In Love, yang tanpa aku sadari. Memang benar aku tak pandai mengenali perasaanku ini. Hanya saja aku senang bertemu denganmu, dan bukan berarti aku harus berharap lebih untuk menjadi kekasihmu. Yang pasti aku akan menjaga gantungan Pick gitar yang kamu berikan dan akanku simpan dengan baik.

Waktu hadir untuk mengiringiku, kamu, kita...
Waktu jua yang mengisi hal-hal, semuanya...
Waktu yang mempertemukan kita,
Waktu yang memperkenalkan kita,
Waktu juga yang memisahkan kita,
Namun, waktu juga yang akan menjawabnya tentang kita, aku.. kamu..

Sabtu, 26 September 2015

Aku Tak Seberuntung Mereka, Tapi Mungkin Mereka Tak Seberuntung Diriku


Umurku 22 tahun, aku perempuan. Bahagia diumurku yang baru aku rasakan ini...  Alhamdullillah Allah memberikan keberkahan berlimpah.

Tidak untuk menyombongkan diri atas nikmat yang Allah berikan, namun ingin berbagi atas kebahagiaanku. Jum’at, 21 Agustus 2015 saya dan bersama rekan PGPAUD lainnya mengikuti sidang, ya memang tidak begitu lancar... saya dan dua rekan lainnya harus mengikuti sidang lanjutan yang diadakan hari Senin, 24 Agsutus 2015. Memang terasa aneh “ada gitu sidang macam gini?!”, terasa tak adil, bagaimana aku dan dua rekan lainnya yang harus mengikuti sidang lanjutan sedangkan rekan lainnya sudah lega... sedih memang, tapi bagaimanapun aku harus menguatkan diri, ini yang terbaik dari Allah agar aku lebih siap, tapi sejujurnya aku sudah enek untuk mendalami materi sidang, tapi aku akui sidang lanjutan ini merasa lebih rileks.

Alhamdullillah dengan selesainya masa studi saya ini tepat di 4 tahun, perasaannya? Jujur biasa aja, tapi senang yaa setidaknya bisa mengurangi biaya orang tuaku dengan menyelesaikan studi pas di 4 tahun, tapi merasa kehilangan... sebagai Mahasiswa, dimana punya kawan-kawan yang mungkin nanti akan jarang atau susah untuk aku temui, kegiatan-kegiatan organisasi kampus yang bertemu orang-orang hebat, yang dulu sempat ngeluh karna cape karna takut dengan orang yang belum dikenal aah.. itu mungkin dan pasti momen yang aku rindukan. Banyak ilmu yang didapat, selama aku menjadi bagian dari mahasiswa universitas pendidikan indonesia, terimakasih.

Tak berhenti dihari itu, masih senin 24 Agustus 2015... usai sidang, bapa (camer kalau sekarang hehe) langsung telepon.. langsung pada inti, beliau mengucapkan selamat atas sidang yang sudah dilaksanakan, beliau juga menanyakan tujuan beliau untuk berkunjung ke rumah untuk silaturahmi hari minggu 30 Agustus 2015, sekalian untuk melamarku, apakah aku bersedia?... nah loh? Perasaanku campur aduk, aku merasa ini mah bercandaan aja soalnya kita (aku dan calon) sepakat tidak akan ada lamaran.. langsung ke akad aja. Tapi dengan tujuan yang baik, lamaran pun dilaksanakan di tanggal 30 Agustus 2015, alhamdullillah acara pun lancar, senang juga yang bisa disaksikan oleh Pa Aki (kakek di usianya yang 100 lebih).

Namun, sebelum di Minggu 30 Agustus 2015 itu, hari Sabtu 29 Agustus 2015 usiaku menginjak di 22 tahun. Alhamdullillah Yaa Allah Maha Besar Engkau, Maha Berkehendak yang tau terbaik untuk umatnya... di umurku yang semakin mengurang, Allah memberikan kelimpahan keberkahan diumurku. Yang tadinya aku merasa dirundung kesedihan karena sidang yang tidak selesai di tanggal 21, dan harus dilanjut di tanggal 24, yang sedih melihat rekan lainnya sudah selesai, sempat berfikir aku memang tak seberuntung mereka, rizkyku belum sampai dikedaan ini, tapi yakin rizky setiap orang berbeda, begitupun kebahagian pun berbeda dalam keadaan yang berbeda... tapi atas kehendak Allah, ia berikan dihari itu juga kabar kebahagian untukku yang berlipat. Kesempatan di umur 22 tahun bisa menyelesaikan masa studi, dan di lamar... alhamdullillah kebahagian yang diberikan secara serentak.

Mungkin disisi lain ini adalah keberkahan yang Allah berikan untukku, namun disisi lain ini adalah ujian yang Allah berikan untukku... Yaa tergantung bagaimana aku mengelola hadiah ini, untuk tidak dijadikan semena-mena, untuk bisa pandai bersyukur. Karna nikmat Allah itu nyata, tau yang terbaik untuk umatnya. Dan yakin bahwa rizky setiap orang berbeda, begitupun kebahagian berbeda dalam keadaan yang berbeda.


Sabtu, 30 Mei 2015

"Ruang Untuk Bercerita"

30.05.15
"Berengkramalah..."
“Perempuan pada umumnya hanya butuh ruang untuk bercerita”

Ternyata sendiri untuk kali ini sulit. Tak seperti dulu menyusuri kota ini sendiri dengan teman imajinasiku yang indah, menghilangkan penat yang ada. Bahkan menikmati kota ini sendiri, menyusurinya terasa penatku hilang, ya! Sederhana. Hal itu membuatku merasa sudah cukup untuk bercerita apa yang dirasakan, pada cermin.. jendela-jendela.. kursi atau teras yang kududuki..  langit.. angin.. gedung-gedung.. tempat tinggi.. pohon yang kulihat dan ku pejamkan sejenak mata ini.. ruang itu sudah cukup bagiku untuk menceritakan semuanya. Dan itu tak jadi masalah bagiku untuk sendiri menyusuri kota ini menceritakan semuanya.
Ternyata berbeda, aku sudah mempunyai dirimu. Iyah perkenalkan dia kaptenku..
Aku sedikit kecewa. Tak hanya pada dirimu, diriku juga. Tak menjadi sosok diriku yang dulu bisa sendiri menceritakan semua hal sesuka yang disuka tanpa perlu dirimu. Ya karna hal ini berbeda Kapten.. aku sudah ada dirimu, mungkin ruang untuk yang biasa ku ceritakan terwaakilkan yang biasa aku lakukan, bahkan dirimu kapten membuat nyaman, tak perlu diceritakan kegunahan ini hanya perlu ada dirimu.
Aku paham tak seharusnya ruangmu selalu menjadi ruang untukku.
Tapi.. Perempuan pada umumnya hanya butuh ruang untuk bercerita
Mungkin seharusnya..
Aku bercerita pada ruang yang dulu pernah kusinggahi.
Tapi.. aku hanya ingin selalu bercengkrama denganmu kapten.



Jumat, 23 Januari 2015

"Dulu Imajinasiku"


Sedang teringat hobbi masa muda dulu. Ya! Di usia... sebelum masuk kuliah yah tepatnya dari SMA ke bawah. Aku hobbi banget ngehayal, imajinasi. Sebelum tidur aja enaknya ngehayal sampe di pinggir bantal pasti aja ada buku dan beberapa lembar kertas yang emang ~lecek. Kertas itu berisi desain rumah *jangan mikir kalo gambarnya desain ala-ala arsitektur ya!.

Gambar di kertas itu gambar yaa coretan tapi berarti banget, bagaimana tidak? gambar desain itu adalah sebagai rumah impian nanti kelak saat berumah tangga dan mempunyai anak. Disana juga sudah tergambar ada berapa kamar tidur termasuk untuk anakku kelak (sedikit digambarin aku sudah siapkan 5 kamar di gambar tersebut, 1 untukku dan suami di lantai bawah, 3 untuk anak-anakku *ga tau kenapa dulu aku sih ingin punya anak tiga anak pertama laki-laki, kedua perempuan, dan yang bungsu anak laki-laki pula, nah 1 kamar lagi kamar untuk tamu nah sisa kamar tersebut dilantai dua), selain itu aku juga siapkan perpustakaan keluarga, musola juga yang dilantai dua. Untuk di lantai 1 hanya kamar utama, dapur dan ruang tamu yang aku gambarkan. Ahh yang paling menyenangkan adalah halaman belakang aku selipkan kolam renang berukuran kecil dan aku juga membuat taman kecil untuk jenis taman-tanaman disana.

Iya aku tidak secara detail menggambar halnya arsitektur. Tapi detail rumah impianku menggunakan imajinasi, bukan hanya itu aku juga menggunakan imajinasi bagaimana nanti aku melayani suami, mengurus anak-anakku, dan berimajinasi profesiku sebagai bidan. Yah.. karna dulu aku bercita-cita ingin menjadi bidan. Tapi bukan hanya itu loh! Cita-citaku juga ingin menjadi arsitektur, mempunyai tempat anak-anak yang kurang beruntung, dan menjadi penulis. Tapi untuk hal menjadi arsitektur dan penulis itu aku jalani sebagai hobiku saja.

Oh iya kembali ke topik pertama. Nah, ternyata aku merindukan daya khayalku. Sekarang jarang bahkan sudah terhitung sangat jarang untuk berkhayal sebelum tidur yang menjadi tidurku lelapku. Soalnya sekarang mah boro-boro berimajinasi yang ada aku pikirin tugas-tugas kuliah, pacar, keluarga, profesiku.. yah yang pasti sekarang aku hanya mikirin yang emang saat ini harus kau kerjakan, bereskan, jalani. Ternyata masa itu memang menyenangkan aku rindu itu. Karna aku bebas untuk bekhayal dimana waktu untuk bekhayal lebih banyak dibanding sekarang. Rindu juga dimana imajinasiku juga tergambarkan.

Hmmm.. mungkin sebagian orang bernyatakan bahwa baekhayal hanya untuk menghabis-habiskan percuma. Namun tidak bagiku, itu hal yang menyenangkan terlebih jika khayal impianku tergapa. Seperti ungkapnya pa Ridwan Kamil “dari imajinasi bisa jadi karya”.




"Intinya Aku Rindu"


Entahlah.. sama dengan hari yang pernah ku rasakan sebelumnya. Bahkan terlalu sering, tapi tak pernah kapok tak pernah bosan dengan kedatangan rindu ini pada dia.

Ya begitulah.. bahkan rindu ini tak direncanakan untuk selalu hadir. Rindu ini selalu datang untuk menemaniku, ah bahkan ternyata asik yah ketika rindu ini datang, aku bisa tersenyum tersipu sendirian bahkan aku bisa merasakan kebersamaan kita dikala rindu ini datang. Ya tentu namanya juga rindu yaa begini. Imajinasi tentang kenangan bermunculan. Apalagi kenangan yang menyenangkan, ingin kembali terulang ingin ke masa dimana kenangan itu terjadi.

Tapi tak di pungkiri rindu ini membandel, ya! Bisa terbayar saat bertemu dengannya, itu pun akan langsung kembali hadir rindu ini saat dia tak di dekatku lagi. Memang agak terganggu jika terus rindu ini menguntit.

Namun bagaimanapun aku berharap rindu ini tak akan ada akhir hayatnya. Berharap rindu ini terus ada, dengan pengecualian dia pun harus tetap bersamaku.


Pada intinya aku hanya ingin menyampaikan “rindu ini hadir terus loh! Dan aku butuh pertanggung jawaban karenanya! hehe”

Senin, 15 September 2014

"Pesan. Sayangku Untuk Kalian"

Tuhan  tolonglah...
 sampaikan sejuta sayangku untuknya..
Betapa sesungguhnya aku mencintainya...

-Ada Band – Yang Terbaik Untukmu -

Cinta yang tak akan pernah hilang, sayang yang akan selalu utuh hanya untuk mereka... orang tuaku.

Sering ingin mengungkapkan, bahkan tak ingin terlewati bahwa aku sayang mereka... mah.. bah..

Mau disaat anaknya sedang sakit, mau disaat anaknya sedang bahagia, mau disaat anaknya sedang terpuruk, bahkan mau disaat anaknya sedang jauh pun mereka akan selalu menyempatkan untuk selalu ada buat anaknya. Iya! Mereka... akan berusaha membagi waktu untuk anaknya dalam keadaan apapun, dengan cara apapun. Begitupun mereka, Mamah dan Abah.

Entah... ada yang ingin aku ungkapkan untuk mereka... “aku sayang kalian... aku sangat sayang kalian... maafkan aku belum bisa membahagiakan kalian... maafkan aku juga belum menjadi anak yang baik untuk kalian... maafkan aku.. tapi aku sayang kalian”.
Maafkan aku... belum bisa mengungkapkan ini semua. Semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya. Semoga aku masih bisa beri kebahagian untuk kalian, dan selalu melihat kalian tersenyum bahagia.


“Yaa Allah... Yaa Mu’min... Yaa Muhaimin... enggkau yang maha kuasa, engakau yang maha pemelihara keamanan, dan engkau yang maha penjaga... aku titipkan orang tuaku dalam lindunganmu. Berilah kesempatan untukku bisa membehagiakan mereka, selalu melihat mereka bahagia, sehat... jadikanlah aku menjadi anak yang berbakti pada mereka. Yaa Aliim... sampaikan bahwa aku sayang mereka, mencintai mereka... Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan ibu bapaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyanyanyiku diwaktu kecil. Aamiin...”

Aku Sayang Kalian Mah.. Bah..

Sabtu, 05 April 2014

"Tentang Hal Ini..."


Waktu mengiringi jawaban yang kupertanyakan..


Tentang hal yang apa harus ku persiapkan waktu yang tak ingin kuduga, waktu yang tak ingin datang air mata terjatuh...
Iya! Tentang Kepahaman yang kucoba bangun, untuk menguatkanku, untuk bisa bersamamu...
Bersembunyi ketakutanku dalam senyuman
Hanya saja... tentang mundur untuk mencari jalan lain untuk maju
Tentang hal ini... waktu menjawabnya

Tentang hal yang terbaik untukmu... aku mundur untuk mencari jalan untuk maju. Memberi langkah untukmu berlari bersamanya...

Kamis, 30 Januari 2014

"Analogi sebuah Perubahan"

Hanya menganalogikan sebuah perubahan.

Sebelumnya, perubahan itu bukan semata-mata diciptakan dengan sendirinya tanpa ada dorongan. Bukan pula perubahan itu hadir mengalir begitu saja. Persepsi saya diwaktu ini, sebab mungkin saya mempersepsikan perubahan akan lain dari yang ini. Sengaja dilakukan, baik secara langsung atau tidak langsung itulah perubahan.

Oke terlalu ribet juga sih mengartikan sebuah perubahan.

Gini deh. Ketika memasak tentu dong perlu bumbu, ya garam, gula, merica, dan sebagainya. Buat apa? Anda taulah jawabannya. Dan ketika masakan tersebut sudah dikasi bumbu rasanya pun pas. Tidak keasinan dan tidak kemanisan, maka tidak seharusnya yang memasak ditambah lagi bumbu tersebut yang dirasa masih kurang. Padahal jelas-jelas sudah pas. Ini nih! Apa jadinya masakan tersebut kalo jadi tidak sesuai keinginan kita, ya tadi... jadi keasinan atau kemanisan. Ujung-ujungnya ga kemakan, mubazir. Meskipun tetep dipaksa dimakan? Pasti dong ada resikonya. Apa coba? *mikir keras

Ya gitu. Perubahan itu memang sengaja dilakukan tapi disini baik secara sadar atau secara tidak sadar, dan secara langsung ataupun tidak langsung. Perubahan juga mungkin bisa yaa mungkin bisa karna faktor adanya ketidakpuasan, ketidaknyamanan.

Perubahan itu banyak ya... tapi ngomong-ngomong pengen sedikit saja, yang menyangkut perasaan. Woaaaaaw apa tuh? *lebay juga ya ni heni

Kayak tadi, soal masakan. Perubahan perasaan bisa loh terjadi, sangat mungkin terjadi. Dari rasa suka jadi benci. Benci jadi suka. Benci tambah makin ilfil. Suka tambah makin menggila-gilai. Dan sebagainya. Itu akan aja terjadi. Kalo... tadi karna ada faktornya.

Gitulah... perubahan pasti ada resito. Mau baik kek, mau buruk kek. Tapi yang penting bisa paham, memahami bukan dari satu posisi/perpihak. Karna bagaimanapun porsi dalam posisi kita akan berbeda. Maka dari itulah untuk saling menghargai, pahamlah akan posisi dia bukan paham karna posisi diri sendiri saja.

Ngerti ga? Kalo ngerti ya syukur. Kalo engga? Baca lagi sampe ngerti ini tulisan aneh.



  

Rabu, 29 Januari 2014

"...?"


Terkadang aku merasa tak berdaya...
ketika rasa takut ini datang..
Terkadang aku merasa tak pantas...
ketika rasa takut ini datang...
Dan terkadang aku harus memaksakan rasa “paham” untuk menanklukan rasa takut ini...
Namun... bagaimanapun rasa takut ini membuatku lelah... lelah... lelah... lelah melemahkan...
Maafkan aku...
bisa bersamamu pun aku takut..
bagaimanapun pergi darimu pun aku takut..
aku tau bagaimana artinya bisa bersamamu..
aku juga tau bagaimana artinya ketika kehilangan..



Kamis, 05 September 2013

"Aku Rindu engkau Pa... Bawelmu"

Sudah beberapa Malam ini tak seperti biasanya. Sepi... hanya bisikan dedaunan dari tiap gesekan diantara mereka oleh sentuhan angin.

Bawelannya hilang begitu saja. Aku rindu engaku Pa...

Beliau yang sangat... sangat... sangat sayang aku, anaknya. Aku mengetahuinya karna dia memberikan kasih sayangnya bukan hanya tutur kata yang dia ucapkan, tapi beliau membuktikan dengan prilakunya. Yang selalu terniang kata-katanya adalah “Bapak itu sayang anak-anak bapak, tapi bapak sangat sayang pada anak kesayangan bapak yaitu kamu... dee...”.

Bapak adalah orang yang tidak pintar untuk mendekati anaknya, dengan gombalannya. Selalu gagal. Jika beliau ingin mengajakku berbincang beliau pasti akan bertingkah salah, dan melakukan kesalahan dengan ke so tahuannya. So pura-pura tahu ini itu tapi padahal jelas-jelas salah. Disitulah kita berdua, kadang jika terlibat Mama, kami sering berdebat ringan hal-hal sepele. Tapi ternyata... disitulah Bapak membuat komunikasi diantara kami, itulah racikan untuk menjalin komunikasinya dengan membuat kesalahan yang sengaja terlihat bodoh. Dengan bertingkah so tahu ini itu membuat terpancing aku untuk mengkomen atas kesotahuannya.  

Beliau sangat bawel dibanding Mama... dari mulai makan, hingga jadwal kuliahku saja dia sangat peka memperhatikan anaknya yang satu ini, aku. Tapi... sering aku mengabaikan kasih sayangnya, perhatiannya dalam betuk bawelannya. Beliau juga sangat peka terhadap anaknya ketika sakit, cekatan mengurusiku. Beliau tidak pernah marah terhadap anaknya ini. Mungkin karna Aku anak kesayangannya.

Entah... sudah beberapa hari ini aku meindukannya. Merindukan kasih sayangnya, perhatiaanya, termasuk bawelannya. Aku rindu engkau Pa...


Pa... apakah engkau baik-baik saja? Kapan pulang? Aku rindu Bapak... dirumah sepi tanpa engkau... kami berdua kesepian tanpa engkau... kami membutuhkanmu... meski aku tahu, engkau pergi untuk mencari biaya hidup keluarga kecilmu ini, aku tahu itu... semoga engkau lekas kembali dengan selamat, sehat, dan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah dimanapun engkau berada. Pa... aku, kami merindukanmu...

Rabu, 28 Agustus 2013

"29 Agustus (Mama untuk Ku, Aku untuk Mama)"


Di rahun 2013... ga tau umur aku yang pasti itu 19 apa 20?

Yang penting ditanggal lahir ini 29 Agustus aku masih bisa bersama mereka dalam waktu yang sama, bersama orang-orang yang aku sayangi Mama, Abah, saudara, teman, dan semuaaaaannya.

Cerita sedikit tentang waktu dalam tanggal ini, bulan ini, tahun ini, dan di hari lahir ini... Kamis, 29 Agustus 2013...

Hari ini Mama Cuti Kerja hanya karna anaknya, aku ulang tahun...

Tadi pagi, pagi sekali... mama baru pulang dari rumah teteh, membuka dan menutup pintu rumah dengan terburu-buru. Karna itu terdengar dari kamar lantai atasku. Aku tak begitu mempedulikannya. Terlampau masih ngantuk. Tapi setiba di depan pintu kamar, terdengar suara Mama menyuruh Abah bangun, dan memberi tahu kalo aku... anaknya hari ini ulang tahun.

Aku yang sadar, tapi malas untuk membuka mata mendengarnya. Setiba dikamar... mama duduk disamping saat aku tertidur. Membengunkan “dee bangun...” taukah teman? Suara itu sangat lembut terdengar, sekali lagi membangunkan dengan hati-hati “dee bangun... shalat...”. aku yang sebenernya masih males-malesan buat bangun, tapi sidikit-sedikit membuka mata “yaaa maah...”. tiba-tiba Mama ngelus kening anaknya dengan bertutur “yang...ulang tahun ya? punten mamah ga bisa ngasih apa-apa, somoga barokah usianya, sukses kuliahnya, tetep jadi pribadi yang baik dan santun, dee... punten mamah uda pesen kue coklat, tapi lupa ngambil kemarin... paling nanti sore adanya. Gapapa ya? Ato mau apa? Pokoknya kamu harus jadi orang yang sukses dan selalu bahagia... mamah Cuma bisa ngiringin kamu dengan doa...” Suara dan do’a itu sangat menyejukan... bukan! Bukan karna memang sudah pagi sehingga terasa sejuk. Tapi memang iringan do’anya begitu menyejukan... semoga do’anya tersampaikan dan terkabulkan untuk anaknya, aku. Aamiin J

Tau kah teman? Aku tidak mengharapkan barang apa-apa termasuk kue coklat yang tiap taun mama pesen ditanggal ini dari mama. Aku Cuma ingin selalu bersama mama... melihat senyum mama, sehatnnya mama, kasih sayangnya mama. Sesimple itu...

Ingin ngucapin juga di tanggal ini dibulan ini ditahun itu... mama yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku di 29 Agustus tahun itu aku lahir untuk Mama dan Mama untuku, Mah maaf yang sampai saat ini aku Cuma bisa ngerepotin. Tapi aku enggan... malu...

“mah... makasih yaaa aku sayang mamah... terimaksih atas semuanya :* semoga waktu akan selalu menemani kita berdua...”

"Dengan Mereka (Teman Kesayangan)"

Pengen cerita. Tapi ga tau cerita apa hhehe... yauda ikuti jari aku yang menulis cerita ini yang ga tau bakal dibawa kemana... hhehe

Tik tok... tik tok... tik tok... *satu jem kemudian.

Gimana kalo cerita pas aku liburan ke cililin?
Yaudalah lah ya, iyaa aja :p

Kalo ga salah pas liburan ke cililin itu waktu semester ampat. Lagi masa-masanya sibuk dengan ini itu, tugas kuliahlah, tugas himpunanlah, tugas jurusanlah beuuud banyak yang sebenernya itu bikin malesin *ups. Belum tugas rumah, belum lagi pikiran yang ga seharusnya dipikirin, apaan coba?

Oke. Sebenernya kaga liburan juga sih. Abis waktunya juga kaga lama, Cuma sehari semalem. Yaaa kalo itu masih dibilang main aja kali ya... ke Cililin bukan mudik ke kampung halaman sih, tapi maen ke rumah teman, kenalin dia Nur Inayah panggil aja Teh Inay tuan rumah di Cililin yang mau dikunjungi dengan niat awal buat refreshing.

            Maen ke Cililin tadinya bakal diundur abisnya bentrok ama tugas-tugas kampus. Tapi ga mau tau kita tetep kudu jadiin tuh maen ke Cililin, apapun kegiatannya kita hadang aja sama-sama, yang penting jadi maennya. Udah berasa mumet ama kegiatan yang ada dikampus, pengennya main aja. Eneklah dengan tugas kuliah, tugas himpunan proker yang berasa ngantuin kalo ga dilaksanain, dan ini itu...

Nah... tau ga? Pas maen ke Cililin sama temen-teman deket PGPAUD. Minta ijinnya itu loh ke bapak ibu masing-masing suseeeeeeh beud!!! Ada yang ngijinin tapi dengan syarat ini itu kudu dilaksanain, ada juga awalnya ga boleh ikut dibilang “mau apa sih kayak yang ga punya rumah aja nginep-nginep di rumah orang?” itu termasuk mama yang tadinya ga ngebolehin akunya nginep. Dibolehin sih tapi Cuma maen aja ga pake nginep-nginepan. Tapi kan kalo Cuma maen ma cape... bolakbalik Bandung Cililin brooooo tepar, tapi deket sih sebenernya hhehe. Tetep aja tuh mama kaga ngijinin kalo pake nginep. Alasannya sih mama tau kalo aku itu anti nginep di rumah orang, anti banget. Anehkan tiba-tiba akunya mau nginep? jadi mana mungkin seorang Heni bisa tidur dirumah orang tanpa ditemenin mama, takutnya juga aku anaknya ngerepotin orang rumah yang diinepin kalo akunya nginep heu... Hahaha iya juga sih... aku itu ga pernah nginep-nginepan dirumah orang lain sekalipun, dirumah kakak sendiri aja kaga mau paling ogah kalo disuruh nginep. Yaaaaaa meskipun Heni itu tukang tidur tapi kalo giliran disuruh nginep ma kaga bisa molor hhehe, tapi beda ya kalo nginepnya itu karna ada kegiatan kek kemping gitu ato LKM ma masih bisa ikut nginep, meski mata mejemnya ga pules hhe *kepaksa ikutan juga :D

Pada akhirnya ma dibolehin tuh nginep yang kudu bawa obat pribadi inilah itulah... riweh yah mama? Padahalkan aku nginep dirumah, bukan kemping ma bukan... beda itu beda. Karna saking bandelnya aku, aku Cuma bawa obat satu aja, ga mau ribet. Lagian dirasa ini badan Fit ko hhe.

Dengan bekel seadanya, karna ga mau ribet kita meluncur ke Cililin. Kita pergi berLima, termasuk tuan rumah. Kita pergi pake naik angkutan umum bis kecil gitu, namanya Madona. Murah loh ongkosnya, bayangin ongkosnya sama kek aku pulang pergi dari rumah ke kampus tujuh rebu. Madona... Namanya keren ya? Tapi geleuh ih hancurlah karna penumpang bapak-bapak ama supirnya juga pada ngerokok coba, bayangin betapa pengapnya didalam bus. Hoooooooah pengen tereak aja ke telinga tuh bapak “kenapa ga dikunyah aja tuh ROKOK pak, sekalian kunyah aja pak KUNYAHHHHHHHHHH biar puas pak!” kesel kan? Hiaaaah. ~abaikan.

Nyampe di Cililin kita langsung disuguhin berbagai makanan. Ada loh makanan khas dari cililin juga, ampe makanan yang baru nemu dan rasain. Mamahnya teh Inay keknya kerepotan deh ngurusin temen-temen anaknya hhehe maapin yaaa buk kita ma emang sudah biasa ngerepotin tuan rumah :D eh uda gitu kita langsung disuruh makan coba ama mamahnya. Ya... ga bakal kita tolak sih bu... abisnya kita kelaperan, dari rumah Cuma modal perut kosong, ya tujuannya sih biar ga mubazir aja gitu makanan yang mamahnya teh inay suguhin hehehe.

Kenyang sudah. Kita lanjut nonton pilem horor. Tapi ketua Himpunan kita takut maksa-maksa supaya ga nonton yang kek gituan. Oh iya kenalin dia Mia, aku biasa manggil dia Teh Mia. Diantara kami berlima dia orang yang paling berani komentar ini itu kritik ini itu nyaranin ini itu pokoknya dia paling berani nentang dan gak mau kalah, ya menurut dia kenapa engga kalo pendapat dia itu benar untuk tetap dipertahankan. Tapi gitu-gitu juga teh mia ma orang yang paling memahami, yaaa maksudnya kalo diantara kami berempat butuh boncengannya buat anter kesana kemari, ya maklum dari kami berlima yang bisa motor ya Cuma dia... pokoknya dia dengan senang hati bakalan nganter kami.

Ga jadi nonton horornya. Yauda deh nonton pilem seadanya yang ada di komputer. Manis banget kita nonton. Kek anak-anak disuguhin pilem kartun. Anteng, sambil ngemil tiduran rebahan... ah nikmatin liburannya.

Abis makan nonton tiduran sambil ngemil pulak itu membuat pengen tidur beneran. Dan emang mata ga bisa ditahan buat mejem, kami... aku dan ririn tertidur. Tapi... kok ini badan berasa ga enak... dari badan ke kening panas, tapi kakinya dingin. Ah? Apa akunya sakit? Masa sih? Mana ga bawa obat!... ahhh diabaikan saja, mungkin bentaran lagi juga bakalan sembuhan. Ngeliat Ririn yang tidur munggungin ko hawanya beda?. Kenalin dulu deh... dia sisuara baby voice. Orangnya pengertian, ceria, baik, manja. Nah pas iseng liat ririn terus megang keningnya, loh? Ko Ririnya panas juga, dia menggigil. Aku coba nanya ririn kenapa... dia bilang mules karna lagi dateng bulan. Tapi mukanya bener-bener pucet. Khawatir... kita panik tapi ga mau repotin mamahnya teh inay, langsung bikin teh manis, teh inay langsung lari ke apotik.

Ngasih obat ke ririn, dan alhamdulilah dia uda baikan. Tapi kenapa akunya berasa makin pusing ya? Padahal uda makan obat pas tadi titip ke teh inay sekalian ke apotik. Ahhh jadi pengen pulang, mau ngabarin ke mamah tapi takut khawatir. Pendem aja deh, siapa tau soreannya uda mendingan. Mungkin Cuma masuk angin ato pusing biasa.

Diajakin sama keluarga teh inay buat makan-makan di salah satu tempat wisata. Makan ikan bakar plus liwet nikmat kayaknya, tapi kenapa berasa pait nasi sama ikannya? Dan berasa ga nafsu juga buat makan. Pengen cepet-cepet kembali ke tempat tidur. Mungkin karna khawatir ke aku yang pucet dan ririn yang baru aja sembuh, kami buru-buru kembali ke rumah tanpa menikmati lingkungan sekitar.

Nyampelah. Dikasih obat lagi, terus disuruh di istirahatin. Merem, tapi ga enak... pengen pulang... kangen mamah... tapi ngerasa gagal ini liburannya. Kami berdua malah nambah ngerepotin yang punya rumah. Rencana kami buat ngunjungin tempat ini itu juga gagal, karna kondisi kami berdua. Maafin kami yaaa... teman-teman...

Dikira uda subuh. Waktu berasa lama kalo dirumah orang terus dengan keadaan sakit. Waktu nunjukin masih jem sembilan malem. Ngeliat ririn ama buk sarah uda tidur, teh mia lagi ngadep notebooknya yang ga tau lagi update apa *eh. Kangen mamah yang ngepuk-pukin. Ternyata bu sarah kebangun, ngampirin ngasih minum. Terus megang kening, ngecek masih deman ato enggak. Akunya pengen nagis loh terharu... oh iya sebelumnya kenalin, bu sarah ini temen paling deket, di kuliahan. Dia tempat pembullyan aku ~jahat ih heni hhehe dia itu cewe kece tomboy, tapi ga tomboy ke cowoan banget hhehe soalnya tomboy tapi masih berpakaian sopan layaknya orang muslim ga ngetat-ngetat ya jadi? Gitulah... Uda gitu ririn juga ke bangun, nanyain uda mendingankah? Dan nawarin buat makan. Udah gitu teh mia nyamperin mijitin aku, lalu disusul teh inay ngelus-ngelus kaki. Ahhhh taukah? Kalian bener-bener pelengkap dalam keadaan apapun. Makasih yaaa... somoga kita akan menjadi teman yang selalu saling melengkapi :’)

Itulah ceritaku... gagal benget ya liburannya? Eits... tapi disitulah aku merasakan kedekatan dengan mereka. Makasih teman-teman kesayangan :*

 Eh sebelum diperiksa ke dokter, aku kira ini karna akibat akunya ga nurut ke mamah. Tapi ternyata... aku kecapean yang bikin sakit Tifus. Yaa emang pas sebelum kita liburan aku habis-habisan ngeluarin tenaga buat beresin ini itu ngerjain ini itu, yang paling parah pas jadi panitia konsumsi buat seminar kalik ya... abisnya angkut-angkut konsumsi yang bikin badan remuk, Tifus deh jadinya hhaha dan itu membuat kapok ga mau mau lagi jadi panitia kon-sum-siiiiiiii!!!!! NO KERAS!!!


Rabu, 14 Agustus 2013

"Mengenangmu"

Kau hadir dalam hidupku, memberikan warna...
kau telah tiada, tetap memberikan warna dalam hidupku...
aku merindukanmu...

Masih kah ingat dirimu? Yang sering mengibas-ngibaskan tanganmu didepan mukaku? Yang saat itu aku sedang melamun?. Tersadar, lalu tertawa bersama. Saat terdiam, lalu saling menatap di dalam keheningan, dan kembali memecahkan hening tertawa bersama. Aku tak mengarti akan hal itu. Kau yang selalu memecahkan keheningan menjadi kehangatan. Memberi cahaya ketika aku dalam kegelapan. Hingga kau melelehkan hatiku. Kau... kau... selalu membarikan hal yang indah.
Sebenarnya...
Kau... bagaimana kamu disana? Aku berharap diatas sana kamu selalu setia memperhatikanku, menemaniku. Meski tak bisa melihat, menyentuh ragamu, aku akan berusaha merasakan keberadaanmu.
Kau... aku merindukanmu... aku merindukanmu akan semuanya... aku rindu kamu...
Bisakah kau kembali? Jangan biarkan aku menyalahkan Tuhan... dengan takdirmu, takdirku yang sudah tak bisa menyatu di dunia ini, membiarkan ku sendiri tanpa dirimu...
Mungkin benar, masa nanti... Tuhan akan mempertemukan kita dialam bakal. Semoga kita masih bisa bertemu...
Kau... aku merindukanmu... aku merindukanmu akan semuanya... aku rindu kamu...

Aku mengenang. Mengenang yang indah untuk mengingat saat-saat bersamamu. Karna mengenang... bagiku itu obat untuk bisa berjumpa denganmu, meski hanya bayangan, meski pada akhirnya menyesakan...

Aku ingat ketika itu... pada awalnya... hujan menciptakan dingin yang membuat kita mengingkari pertemuan penting kita. Ya! Itu Tanggal jadi kita. Sempat kecewa tak bisa merayaknnya, waktu sedang tak berpihak pada kita. Tapi kamu berusaha memberikan hari esok yang seakan-akan hari bisa kau beli, hari yang bisa kau miliki, untuk menenangkanku, bahwa hari esok kita bisa berjumpa, bisa merayakannya. Aku senang, itu membuatku tenang, meski hanya gombalamu saja.

Namun ternyata salah... waktu merancang, menciptakan pertemuan kita yang indah dengan menghadirkan gerimis menggantikan hujan.  

Kau dan motor kesayanganmu menerobos air yang membasahi bumi, menuju rumahku. Kau berniat memberikan suprise. Ingatkah? Kau yang berpura-pura sebagai pengantar kue dengan mengenakan jaket untuk menutupi wajahmu. Tapi itu tidak membuatku bodoh untuk tidak mengenalimu. Aku tahu sepatu Adidas biru langit kesayanganmu itu mmilikmu, jadi tak dapat dipungkiri bahwa itu kamu. kau... gagal memberikan suprise untukku, tapi kau berhasil membuatku senang bahagia.

Kaca matamu yang berembun saat membuka jaket yang menutupi wajahmu, itu membuatku tertawa. Kau mengendus, tapi lihat... bibirmu menjadi perhatianku, bibirmu kembali pucat. Aku khawatir, aku takut... tetap, kau menutupi sakitmu, membelai wajahku, menenangkanku, bahwa kau tak apa-apa. Kau... harusnya aku yang menenangkanmu membuatmu lebih kuat, bukan sebaliknya...

Blackforest, kue coklat kesukaanku. Kamu bilang meyakiniku blackforest itu buatanmu, spesial yang kamu buat untukku. Aku percaya... karna kamu tak pernah mendustaiku. Tapi aku tak habis pikir, kamu diluar adalah pribadi yang cu’ek dan itu yang membuatku jatuh cinta. Tapi disaat kita berdua, kamu adalah pribadi yang gombalannya dan humoranmu yang membuatku juga jatuh cinta. Ah... ternyata kamu semuanya yang membuatku jatuh cinta.

Oh iya kue itu yang masih hangat, dikirimkan spesial untukku dengan tangan buatanmu sendiri. Aku sempat ragu untuk memakannya. Takut ga enak, Takut diracun malah. Tapi ternyata tidak, yaa... manamungkinlah. Hemmmm saat itu juga kamu memberikanku coklat. Coklat yang kedinginan yang dikeluarkan dari jaketmu. Apakah kau juga kedinginan seperti coklat ini?

Sudah... aku harus sadar dari dunia kenangan kita. Aku takkan melupakan kenangan itu. Saat kamu berusaha membuat balckforest buatanmu yang kurasa itu terlalu manis, mengantarkannya menerjang hujan kedinginan, hingga coklat yang kau bawa disimpan dalam saku jaketmu terasa dingin, sedingin saat tubuhmu diguyur hujan. Namun... kau selalu berjuang untukku, apapun keadaanya. Terimakasih...

Aku bahagia... meski hanya mengenang tentangmu. Itu... bisa membuatku tersenyum.
Merindumu... tapi tak memilikimu, tapi kuharap kau bisa merasakan lukisan rinduku...
Semoga rinduku bisa memilikimu... kembali...
Dan semoga kau bahagia disana...
Tuhan... aku titipkan dia kepadamu, karna aku percaya Tuhan mengambilnya... karna Tuhan sayang dia...


M.RP

Jumat, 09 Agustus 2013

"Aku, Kamu Merindu"

Bintang malam sampaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
biar kudekap erat peluk waktu dingin membelenggunya

Taukah engkau wahai langit
ku ingin bertemu membelai wajahnya
kupasang hiasan angkasa yang terindah
hanya untuk dirinya

*Krispatih – Lagu Rindu

“Kamu. Kamu bagaimana kabarnya? Baik-baik saja kan? Sehatkan? Oh iya, kamu sedang apa? Semoga waktu-waktumu diisi dengan yang luar bisa...” tapi aku enggan untuk bertanya menyapa seperti itu. Malu. Yang bisa dilakukan hanya mengetik dan menatap ke layar Handphone, membiarkannya beberapa saat, tak mengirimnya, lalu menghapunya. Bagiku, itu cukup melampiskan kerinduan ini. Aku juga ingin menyampaikan “akunya rindu kamu, kangen ingin jumpa...” ahhh lagi-lagi aku enggan menyampaikannya. Dan membiarkan begitu saja kerinduan ini menggantung di langit-langit relung hati ini. Berharap angin akan menyampaikan kerinduan ini padamu, dan kamu menangkap erat rindu ini. Hanya berharap.
Efek samping perpisahan kita adalah kerinduan ini makin meroket. Tapi bagaimanalah aku akan menyampaikannya? Aku malu, aku juga sepertinya tidak pantas menyampaikan rasa ini, karna aku wanita. Entahlah... begitu enggan aku yang terlahir sebagai perempuan menyampaikan rasa rindu ini terlebih dahulu. Aku hanya bisa menunggu untuk jawaban kerinduanmu juga, tanpa aku menyampaikannya dalam isi waktu harianku. Membosankan? Ya sangat membosankan! Tapi itulah efek samping aku yang enggan menyampaikan terlebih dahulu.
Akan mengasikan, dan tidak akan terasa hampa ketika kerinduan yang enggan di sampaikan hingga melahirkan kebosanan, ketika diri ini mengenang saat-saat bersama. Bernostalgia. Tapi mengenangpun ada waktu sadarnya. Aku sadar itu. Bahwa waktu sudah berbeda. Aku, kamu... sudah tak lagi bersama. Namun... aku harap mengenang tentangmu adalah cara terbaik untuk menghargai dirimu yang telah meninggalkanku. Meski terasa menyesakan.
Ah... betapa bahagianya. Ketika kamu, ya! Kamu! Mengirimkan pesan singkat. Menanyakan kabarku, menanyakan apa yang sedang kulakukan, hingga menayakan kabar mama. Yang sebenarnya cukup, bahkan lebih dari cukup untuk membuatku tersenyum bahagia.

Oh iya... terselip dipesan singkatmu, “kamu rindu aku”, yang bernilai sungguh-sungguh berharga. Angin telah menyampaikan kerinduan ini. Terimakasih. Aku juga rindu kamu... sebenarnya jika aku harus jujur, jika aku harus menyampaikan... sebenarnya apa arti kerinduan kita jika tak saling memiliki? Namun sekali lagi terimakasih, kamu yang telah meluangkan waktu untuk merindukanku.

#Isi Waktu

"THOUGH THE RAIN"

Apakah perasaan yang lama itu masih ada untukku? Ataukah memang perasaan itu karna sudah lama sekali yang bahkan akan menyebabkan menghilang begitu saja? Menggantikan perasaan itu untuk orang lain? Secepat itu?
Terkadang cinta tak pernah gagal untuk membuat bahagia.
Tapi terkadang cemburu juga selalu sukses untuk memanas, misahkan, bahkan bisa menghancurkan.
Dan terkadang kecewa selalu sukses membuat sedih.
Begitupun kamu. kamu tak pernah gagal dan selalu sukses membuat dan memberikannya kepadaku semua itu.

Aku coba mengerti, memahami. Kita tak lagi bersama. Apa wewenangnya aku untuk menghentikanmu, dengan tingkah lakumu yang membuatku cemburu? Cemburu? Ya aku cemburu. Ups... tapi biarlah aku sendiri membenahi rasa cemburu ini dalam tulisan bisuku. Dan aku akan bersembunyi bersama rasa cemburu ini dalam tulisanku.
Apakah wajar aku cemburu? Meski aku bukan siapa-siapanya kamu lagi? kurasa tidak. Tapi mengapa cemburu ini tubuh ketika kau bersama perempuan lain? Sama seperti halnya rindu ini lahir dan tumbuh, tak bisa disangkal, tak bisa kukendalikan, ketika rindu ini datang. Kenapa disaat kehilanganmu... seakan-akan aku harus haus perhatianmu?
Meski cintai kamu hanya bisa dalam hati lagi. Sungguh ini menyakitkan. Aku harap jangan cintamu hilang untuku.
I can make it through the rain
I can stand up once again
on my own and I know
That I’m strong enough to mend
And every time I feel afraid
I hold tighter to my faith
And I live one more day
And I make it through the rain

*Mariah Carey – Though The Rain


Iya!... Bagaimanapun aku harus bangkit bukan? Meski berdiri disaat terluka. Terjatuh, tersungkur, terjatuh, tersungkur kembali, apapun itu aku harus tetap bangkit bukan? Berdiri terus berjalan kedepan. Mamahami diri sendiri, berdamai dengan hati ini tanpa berdebat lagi tentang ingatan bersamamu...

#Isi Waktu