Kamis, 01 Desember 2011

KARYA TULIS ILMIAH "METODE BERMAIN TERHADAP TUMBUH KEMBANG ANAK"

PENGARUH METODE BERMAIN TERHADAP TUMBUH KEMBANG
ANAK USIA DINI PRA SEKOLAH
(Studi Deskriptif Analisis Mengenai Pengaruh Metode Bermain pada Siswa Raudhatul Athfal Alif)

Karya Tulis Ilmiah
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.

Dosen : Dewi Rani Gustiasari, S.S

Disusun Oleh:
Kelompok 2
ANNISA                                                     1106239
AZMI NOOR RAMADHAYANI               1106580
EVA JULIANTI                                          1105285
HENI KURNIATI                                       1100405
SINTA SUNANTI                                      1105396
SITA WIHDIYAH WARDAH                    1104372
ZIA RIZQI MAHMUDAH                          1104378
 






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU – PAUD
JURUSAN PEDAGOGIK
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
                                                                        2011






 





















PENGARUH METODE BERMAIN TERHADAP TUMBUH KEMBANG
ANAK USIA DINI PRA SEKOLAH
(Studi Deskriptif Analisis Mengenai Pengaruh Metode Bermain pada Siswa Raudhatul Athfal Alif)
ABSTRAK























 


















KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas-tugas Karya Tulis Ilmiah ini. Karya tulis ilmiah yang berjudul “Pengaruh Metode Bermain Terhadap Tumbuh Kembang Anak Usia Dini Pra-sekolah”. karya tulis ilmiah ini berisi tentang bagaimana pengaruh metode bermain anak usia dini saat anak itu tumbuh berkembang.
Karya tulis ilmiah ini kami susun untuk melengkapi nilai kognitif pada mata pelajaran Bahasa.Indonesia khususnya pada keterampilan menulis. Penyusunan karya tulis ilmiah ini pun bertujuan untuk menjawab perumusan masalah dan memperjelas hasil penelitian yang telah kami lakukan.
Harapan kami menulis karya tulis ilmiah ini agar semua pembaca bisa mengerti/memahami arti dari judul yang kami buat.
Akhir kata kami ucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Dewi Rani Gustiasari, S.S selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia serta semua pihak yang telah membantu proses pembuatan karya tulis ilmiah ini . kami mohon maaf bila laporan ini ada kekurangan, untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik agar kami bisa memperbaikinya pada kesempatan lain. Semoga karya tulis ilmiah yang kami buat dapat bermanfaat.

Bandung, Desember 2011

Penyusun





 















UCAPAN TERIMA KASIH





















 















DAFTAR ISI





















 















BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang Masalah
Dalam penyelenggaraan pendidikan metode pembelajaran ada berbagai metode yang dilakukan oleh para pendidik. Diantaranya adalah metode belajar sambil bermain ataupun bermain sambil belajar. Pada hekikatnya dua macam metode tersebut sama-sama saling mendukung dalam proses anak didik.
Bermain merupakan suatu fenomena yang sangat menarik perhatian pera pendidik, psikolog, ahli filfasat, dan banyak orang lagi sejak beberapa dekade yang lalu. Mereka tertatang untuk lebih memahami arti bermain dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Bermain benar-benar merupakan pengertian yang sangat sulit dipahami karena muncul dalam beraneka ragam bentuk. Bermain itu sendiri bukan hanya tampak pada tingkah laku anak tetapi pada usia dewasa bahkan bukan hanya pada manusia (Spodek, 1991).   
Pada umumnya dalam proses pendidikan pada anak balita atau usia dini lebih diutamakan pada metode bermain sambil belajar. Hal ini dilakukan karena metode ini lebih sesuai dengan kondisi anak-anak yang cenderung lebih suka bermain. Maka para pendidik memanfaatkan hal ini untuk mendidik mereka dengan cara bermain sambil belajar yaitu disamping mereka bermain, mereka sekaligus mengasah keterampilan dan kemampuan. Cara ini akan lebih berkesan dalam memori otak anak-anak untuk perkembangan pengetahuannya karena pada usia dini adalah masa-masa perkembangan memori otak sangat pesat.
Diseluruh dunia anak bermain. Bermain bagi anak bagaikan berkerja bagi orang dewasa. Ada anak-anak yang bermain dengan patut, namun ada juga yang bermain “cukup berbahaya” mereka lakukan sebagai kanak-kanak. Peran pendidikanlah untuk mengawal bagaimana permainan dapat menumbuh kembangkan mereka secara patut dan sebagai anak manusia.
Para ahli psikolog berpendapat bahwa masa pendidikan di TK merupakan masa usia emas (golden age). Pemberian pendidikan yang tepat pada masa ini berpengaruh sangat signifikan bagi prestasi belajar pada jenjang pendidikan berikutnya. Pendidikan TK dapat memberi andil bagi peningkatan mutu sumber daya manusia. Pada fase emas ini anak mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik menyangkut pertumbuhan fisik dan motoriknya, pekembangan watak dan moralnya, serta emosional dan intelektualnya.
Bermain adalah cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak TK sesuai kompetensinya. Melalui bermain, anak memproleh dan memproses informasi mengenai hal-hal baru dan berlatih melalui keterampilan yang ada. Bermain disesuaikan dengan perkembangan anak. Permainan yang digunakan di TK merupakan permainan yang merangsang kreatifitas anak dan menyenangkan. Untuk bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain merupakan prinsip pokok dalam pembelajaran di TK (Depdiknas, 2006).
Anak-anak senantiasa tumbuh dan berkembang. Mereka menampilkan ciri-ciri fisik psikologis yang berbeda untuk tiap tahap perkembangannya. Masa anak-anak merupakan masa puncak kreatifitasnya, dan kreatifitas mereka perlu terus dijaga dan dikembangkan dengan menciptakan lingkungan yang menghargai kreatifitas yaitu melalui bermain. Oleh karena itu pendidikan di TK yang menekankan barmain sambil belajar dapat mendorong anak untuk mengeluarkan semua daya kreatifitasnya.
Seluruh potensi kecerdasan anak akan berkembang optimal apabila disirami suasana penuh kasih sayang dan jauh dari berbagai tindak kekerasan, sehingga anak-anak dapat bermain dengan gembira. Oleh karena itu, kegiata belajar yang efektif pada anak dilakukan melalui cara-cara bermain aktif yang menyenangkan, dan interaksi pedagogis yang mengutamakan sentuhan emosional, bukan teori akademik.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik mengangkat permasalahan tersebut untuk dilakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Metode Bermain terhadap Tumbuh Kembang Anak Usia Dini Pra Sekolah”.

1.2   Masalah Penelitian
1.2.1    Indentifikasi Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana dampak metode bermain yang ada dimasyarakat, khususnya bagi anak-anak dilingkungan sekolah terhadap psikis perkembangan pada anak usia dini.

1.2.2    Batasan Masalah
Agar pembahasan masalah dalam penelitian ini lebih terarah serta cara pemecahannya dapat diterima dengan jelas, maka perlu dilakukan pembahasan masalah.
Masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah pengaru metode bermain yang diterapkan oleh guru terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.



1.2.3    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana metode bermain yang diterapkan kepada Anak Usia Dini Pra Sekolah?
2.      Bagaimana rancangan dan pelaksanaan kegiatan bermain pada Anak Usia Dini?
3.      Apa saja dampak pada metode bermain yang diterapkan kepada Anak Usia Dini?


1.3   Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1.      Mengetahui metode bermain yang diterapkan pada Anak Usia Dini Pra Sekolah.
2.      Mengetahui penerapan pada kegiatan bermain Anak Usia Dini.
3.      Mengetahui dampak pada metode bermain terhadap tumbuh kembang Anak Usia Dini.

1.4   Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk:
1.      Mengetahui lebih jauh tentang penerapan metode untuk Anak Usia Dini Pra Sekolah.
2.       

1.5   Definisi Operasional
Untuk menghindari salah tafsir serta untuk lebih memperluas tentang penelitian ini, maka istilah-istilah pokok dan pengertian khusus dalam penelitian ini akan dipaparkan secara operasional.
Pengaruh yang berarti daya yang ada,timbul oleh sesuatu yang ikut membentuk watak,kepercayaan atau perbuatan seseorang. Metode berasal dari bahasa yunani “methodos” yang memiliki arti cara, jalan yang di tempuh sehubungan dengan upaya ilmiah, cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan – pra sekolah yakni sebelum memasuki jenjang pendidikan,




                                                   














 















BAB II
METODE BERMAIN ANAK USIA DINI

Dalam bab ini berturut-turut akan dibicarakan pokok bahasan sebagai berikut: pengertian bermain bagi anak taman kanak-kanak, pengaruh bermain bagi tumbuh kembang anak, fungsi bermain bagi anak taman kanak-kanak, beberapa macam kegiatan bermain anak taman kanak-kanak, memilih dan menggunakan serta merawat sarana dan alat bermain, rancangan kegiatan bermain, pelaksanaan kegiatan bermain.

2.1            Pengertian Bermain bagi Anak Taman Kanak-kanak
Sebagian besar orang mengerti apa yang dimaksud dengan bermain, namun demikian mereka tidak dapat memberi batasan apa yang dimaksud dengan bermain. Beberapa ahli peneliti member batasaan arti bermain dengan memisahkan aspek-aspek tingkah laku yang berbeda dalam bermain. Dikemukakan sedikitnya ada lima kriteria dalam bermain (Dworetzky, 1990: 395-396).
1.      Motivasi intrinsik. Tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak, karena itu dilakukan demi kegiatan itu sendiri dan bukan karena adanya tuntutan masyarakat.
2.      Pengaruh positif. Tingkah laku itu menyenangkan atau menggembirakan untuk dilakukan.
3.      Bukkan dilakukan sambil lalu. Tingkah laku itu bukan dilakukan sambil lalu, karena itu tidak mengikuti pola atau urutan yang sebenarnya, melainkan lebih bersifat pura-pura.
4.      Cara/tujuan. Cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya. Anak lebih tertarik pada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan.
5.      Kelenturan. Bermain itu perilaku yang lentur. Kelenturan ditunjukan baik dalam bentuk maupun dalam hubungan serta berlaku dalam setiap situasi.
Jika kita menggunakan kelima kriteria tersebut, maka kita dapat mengatakan bahwa bila seorang anak menggunakan mainan hewan-hewanan dengan cara yang lentur tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya, kegiatannya berpura-pura, menyenangkan bagi dirinya sendiri, dan melakukan kegiatan hanya untuk bergiat, maka dapat dikatakan ia sedang bermain.
Apa pun batasan yang diberikan tentang pengertian bermain, bermain membawa harapan dan antisipasi tentang dunia yang memberikan kegembiraan, dan memungkinkan anak berkhayal seperti sesuatu atau seseorang, suatu dunia yang dipersiapkan untuk berpetualang dan mengadakan telaah; suatu dunia anak (Gordon & Browne, 1985: 265). Melalui bermain anak belajar mengendalikan diri sendiri, memahami kehidupan, memahami dunianya. Jadi bermain merupakan cermin perkembangan anak.
Bermain juga merupakan tuntutan dan kebutuhan yang esensial bagi anak TK. Melalui barmain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, sosial, nilai, dan sikap hidup.
Melalui kegiatan bermain anak dapat melakukan koordinasi otot kasar. Bermacam cara dan teknik dapat digunakan dalam kegiatan ini seperti merayap, merangkak, berjalan, berlari, meloncat, melompat, menendang, melempar, dan lain sebagainya.
Melalui kegiatan bermain anak dapat berlatih menggunakan kemampuan kognitifnya untuk memecahkan berbagai masalah seperti kegiatan mengukur isi, mengukur berat, membandingkan, mencari jawaban yang berbeda dan sebagainya.
Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreatifitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang mengandung kelenturan; memanfaatkan imajinasi dan ekspresi diri; kegiatan-kegiatan pemecahan masalah, mencari cara baru dan sebagainya.
Melalui kegiatan bermain anak dapat melatih kemampuan bahasanya dengan cara: mendengarkan beraneka bunyi, mengucapkan suatu kata atau kata, memperluas kosa kata, berbicara sesuai dengan tata bahasa Indonesia, dan sebagainya.
Melalui kegiatan bermain anak dapat meningkatkan kepekaan emosinya dengan cara mengenalkan bermacam perasaan, mengenalkan perubahan perasaan, membuat pertimbangan, menumbuhkan kepercayaan diri.
Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya, seperti membina hubungan dengan anak lain, bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat, menyesuaikan diri dengan teman sebaya, dapat memahami tingkah lakunya sendiri, dan paham bahwa setiap perbuatan ada konsekueasinya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan bermain anak akan memperoleh kesempatan memilih kegiatan yang disukai, bereksperimen dengan bermacam bahan dan alat, berimajinasi, memecahkan masalah dan bercakap-cakap secara bebas, berperan dalam kelompok, berkerjasama dengan kelompok, dan memproleh pengalaman yang menyenangkan.    

2.2            Pengaruh Bermain Bagi Tumbuh Kembang Anak
Bermain merupakan istilah yang digunakan secara bebas sehingga arti utamanya mungkin hilang. Arti yang paling tepat ialah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Piaget menjelaskan, “bermain terdiri atas tanggapan yang diulang sekedar untuk kesenangan fungsional.” Menurut Bettelheim, “kegiatan bermain adalah kegiatan yang tidak mempunyai peraturan lain kecuali yang ditetapkan pemain sendiri dan tidak ada hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luas.”
Pengaruhnya bermain, yakni sebagai berikut:
1.      Perkembangan Fisik
Bermain aktif penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya. Bermain juga berfungsi sebagai penyaluran tenaga yang berlebihan yang terpendam terus akan membuat anak tegang, gelisah, dan mudah tersinggung.
2.      Dorongan berkomunikasi
Agar dapat bermain dengan baik bersama anak yang lain, anak harus belajar berkomunikasi dalam arti mereka dapat mengerti dan sebaliknya mereka harus belajar mengerti apa yang dikomunikasikan anak lain.
3.      Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan
Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain sering kali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata mungkin akan memperoleh pemenuhan keinginan itu menjadi pemimpin tentara mainan.
4.      Sumber belajar
Bermain memberi kesempatan untuk mempelajari berbagai hal melalui buku, televise, atau menjelajah lingkungan yang tidak diperoleh anak dari belajar di rumah atau sekolah.
5.      Rangsangan bagi kreativitas
Melalui eksperimentasi dalam bermain, anak-anak menemukan bahwa merancang sesuatu yang baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan. Selanjutnya mereka dapat mengalihkan minat kreatifnya ke situasi di luar bermain.
6.      Perkembangan wawasan diri
Dengan bermain anak mengetahui tingkat kemampuannya dibandingkan dengan temannya bermain. Ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan konsep dirinya dengan lebih pasti dan nyata.
7.      Belajar bermasyarakat
Dengan bermain bersama anak lain, merka belajar bagaimana membentuk hbungan social dan bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.
8.      Standar moral
Walaupun anak belajar di rumah dan di sekolah tentang apa saja yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral paling teguh selain dalam kelompok bermain.
9.      Belajar bermain sesuai dengan peran jenis kelamin
Anak belajar di rumah dan di sekolah mengenai apa saja peran jenis kelamin yang disetujui. Akan tetapi, mereka segera menyadari bahwa mereka juga harus menerimanya bila ingin menjadi anggota kelompok bermain.
10.  Perkembnagan cirri kepribadian yang diinginkan
Dari hubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dalam bermain, anak belajar bekerja sama, murah hati, jujur, sportif, dan disukai orang.

2.3            Fungsi Bermain bagi Anak Taman Kanak-kanak
Sesuai dengan pengertian bermain yang merupakan tuntutan dan kebutuhan bagi perkembangan anak usia TK, menurut Hertley, Frank, dan Goldenson (Gordon & Browne, 1985: 268) ada 8 fungsi bermain bagi anak:
1.      Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Contohnya, meniru ibu masak di dapur, dokter mengobati orang sakit, dan sebagainya.
2.      Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata seperti guru mengajar di kelas, sopir mengendarai bus, petani menggarap sawah, dan sebagainya.
3.      Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata. Contonya, ibu memandikan adik, ayah membaca Koran, kakak mengerjakan tugas sekolah, dan sebagainya.
4.      Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng, menepuk-nepuk air, dan sebagainya.
5.      Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima seperti berperan sebagai pencuri, menjadi anak nakal, pelanggar lalu lintas, dan lain-lain.
6.      Untuk kilas balik peran-peran yang biasa dilakukan seperti gosok gigi, sarapan pagi, naik angkutan kota, dan sebagainya.
7.      Mencerminkan pertumbuhan seperti pertumbuhan misalnya semakin bertambah tinggi tubuhnya, semakin gemuk badannya, dan semakin dapat berlari cepat.
8.      Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalh seperti penghias ruangan, menyiapkan jamuan makan, pesta ulang tahun.
Sedangakan menurut Hetherington & Parke (1979) bermain juga berfungsi untuk mempermudah perkembangan kognitif anak. Dengan bermain akan memungkinkan anak meneliti lingkungan, mempelajari sesuatu, dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Bermain juga meningkatkan perkembangan sosial anak. Dengan menampilkan bermacam peran, anak berusaha untuk memahami peran orang lain dan menghayati peran yang akan diambilnya setelah ia dewasa kelak.
Sejalan dengan Hetherington & Parke di atas, Dworetzky (1990) juga mengemukakan bahwa fungsi bermain dan interaksi dalam permainan mempunyai peran penting bagi perkembangan kognitif dan sosial anak.
Fungsi bermain tidak saja dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan sosial, tetapi juga perkembangan bahasa, disiplin, perkembangan moral, kreativitas, dan perkembangan fisik anak.
Beberapa fungsi bermain yang lain akan dibicarakan di bawah ini:
1.      Mempertahankan Keseimbangan
Kegiatan bermain dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga. Setelah melakukan kegiatan bermain anak memperoleh keseimbangan antara kegiatan tenaga dan kegiatan yang memerlukan ketenangan.
2.      Menghayati Berbagai Pengalaman yang Diperoleh dari Kehidupan Sehari-hari
Anak yang bermain seolah-olah ia sedang dalam perjalanan kereta api atau melakukan jual beli, atau sedang menyuntik pasien, mengatur meja makan, atau membersihkan rumah, adalah kegiatan bermain yang didasarkan pada penghayatan terhadap peristiwa-peristiwa yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi bermain sebagai sarana untuk menghayati kehidupan sehari-hari ini berguna untuk menumbuhkan kebiasaan pada anak, selain juga mengenal berbagai profesi contohnya bila orang sakit harus berobat ke puskesmas, bila sakit gigi berobat ke dokter gigi, dan sebagainya.
3.      Mengantisipasi Peran yang Akan Dijalani di Masa yang Akan Datang
Meskipun anak berpura-pura memerankan seorang ayah/ibu, perawat, namun sebenarnya kegiatan tersebut merupakan upaya untuk mempersiapkan anak melaksanakan peran tersebut kelak. Berperan sebagai orang tua, berarti mencoba menghayati prilaku, perasaan, dan sikap sebagai orang tua, sehingga bila anak laki-laki dengan bangga memerankan peran ayah, umpamanya memakai dasi, berangkat kekantor, menerima tamu, berekreasi dengan anak-anak ia dapat merasa benar-banar sebagai ayah.
4.      Menyempurnakan Keterampilan-keterampilan yang Dipelajari
Anak TK merupakan pribadi yang sedang tumbuh. Dengan demikian anak selalu berusaha menggunakan kekuatan tubuhnya. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan geraknya. Pada usia 3 tahun anak baru mulai belajar mengendarai sepeda roda tiga dan mencoba untuk menguasainya. Menginjak usia 4 tahun ia dengan mudah mengendarai sepeda roda tiga tersebut. Semakin bertambah usianya semakin mantap keterampilannya.
Bukan hanya keterampilan gerak yang dimantapkan, tetapi juga interaksi sosial. Bermain merupakan latihan spontan untuk mengingatkan keterampilan tersebut. Bermain dengan keterampilan kognitif anak juga ditingkatkan. Misalnya keterampilan berbahasa, berhitung, mengenal lingkungan social dan fisik, membandingkan, mengumpulkan dan membuat generalisasi.
5.      Menyempurnakan Keterampilan Memecahkan Masalah
Masalah yang dihadapi oleh anak sehari-hari dapat bersifat masalah emosional, sosial, maupun intelektual.
Anak dapat menggunakan kegiatan bermain sebagai sarana untuk memecahkan persoalan intelektualnya. Dengan bermain anak dapat menyalurkan rasa ingin tahunya seperti bagaimana caranya memasak air, mengapa es mencair di udara terbuka, dan sebagainya.
6.      Meningkatkan Keterampilan Berhubungan dengan Anak Lain
Melalui kegiatan bermain anak  memperoleh kesempatan untuk meningkatkan keterampilan bergaulnya seperti bagaimana menghindari pertentangan dengan teman, bagaimana tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, berbagai kesempatan menuntut hak dengan cara yang dapat diterima, mengkondisikan keinginan, dan bagaimana caranya mngungkapkan perasaan serta kebutuhanya.

2.4  Beberapa Penggolongan Kegiatan Bermain Anak TK
Seiring sebagai orang tua kita menganggap kegiatan bermain anak kita dengan teman-temannya hanya membuang energy dan waktu anak kita saja. Kita lupa, bahwa justru ketika barmain itulah anak kita mendapatkan kesempatan untuk menyalurkan kreativitas dan imajinasinya. Dengan demikian, anak juga bias diajarkan untuk memahami konsep berbagai dan peraturan permainan, misalnya dalam permainan petak umpet dan engklek. Selain itu dengan cara bermain anak bias kita latih kognitifnya dan keterampilan jari-jari tangannya.
Kegiatan bermain juga sangat effektif bagi anak untuk menghilangkan trauma, kepenatan di sekolah atau mungkin juga stress. Permainan-permainan edukatif berguna untuk melatih kemampuan penalaran (kognisi) anak dan meningkatkan kemampuan otak kanan yang berhubungan dengan emosi, dan otak kiri yang berhubungan dengan logika dan matematika. Permainan edukatif ini sebaiknya diberikan kepada anak pada saat tahp perkembangan saraf sensorik motornya sudah bagus atau sudah mencapai usia 2-6 tahun. Jangan berikan permainan edukatif dengan tingkat kesulitan terlalu tinggi yang baru bias diberikan pada waktu anak sudah berusia 12 tahun.
Ada beberapa penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan anak usia TK, yaitu, kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan sosial anak, dan kegiatan bermain berdasarkan pada kegemaran anak.
1.      Penggolongan Kegiatan Bermain Sesuai dengan Dimensi Perkembangan Sosial Anak
Gordon & Browne (1985) mengadakan penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan sosial anak dalam 4 bentuk, yaitu:
a.       Bermain secara soliter
Yaitu anak bermain sendiri atau dapat juga dibantu oleh guru. Para peneliti menganggap bermain secara soliter mempunyai fungsi yang penting, karena setiap kegiatan bermain jenis ini 50% akan menyangkut kegiatan edukatfi dan 25% menyangkut kegiatan otoy kasar, contohnya sedikit kegiatan menari, meloncat-loncat atau berlari (Dworetzky, 1990: 398).
b.      Bermain secara paralel
Yaitu anak bermain sendiri-sendiri secara berdampingan. Jadi tidak ada interaksi anak satu dengan anak yang lain. Anak senang dengan kehadiran anak lain, tetapi belum terjadi keterlibatan diantara mereka. Selama bermain secara paralel anak sering menirukan apa yang dilakukan oleh anak lain yang berdekatan (Dworetzky, 1990: 399) . dengan cara meniru anak akan belajar berbagai tema bermain yang dimiliki anak lain.
c.       Bermain Asosiatif
Taman kanak-kanak membawa berbagai perubahan bagi anak usia TK dalam kegiatan sosialnya. Bermain asosiatif terjadi bila anak bermain bersama kelompoknya. Misalnya, menepuk-nepuk air beramai-ramai, bermain bola bersama, bermain pasir bersama, dan lain-lain.
d.      Bermain secara kooperatif
Terjadi bila anak secara aktif menggalang hubungan dengan anak-anak lain untuk membicarakan, merencanakan, dan melaksanakan kegiatan bermain. Pemahaman nonverbal sering merupakan awal kegiatan untuk mengadakan interaksi secara verbaldan koordinasi sosial yang akan terjadi pada bermain secara asosiatif atau kooperatif (Dworetzky, 1990: 399).
2.      Kegiatan Bermain Berdasarkan pada Kegemaran Anak
Yaitu bermain bebas dan spontan; bermain pura-pura ;bermain dengan cara membangun atau menyusun; bertanding dan berolahraga.
a.       Bermain bebas dan spontan
Merupakan kegiatan bermain yang tidak memiliki peraturan dan aturan main. Sebagian besar merupakan kegiatan mandiri. Anak akan terus bermain sampai ia tidak berminat lagi.
Kegiatan bermain bebas ini lebih bersifat eksploratif. Misalnya anak mengeksplorasi alat bermainnya secara intensive untuk mengetahui cara bekerja alat permainan tersebut. Bermain-main itu kemudian dipergunakan untuk bermain pura-pura atau dalam kegiatan membangu atau menyusun.
b.      Bermain pura-pura
Bermain pura-pura adalah bermain yang menggunakan daya khayal yaitu dengan memakai bahasa atau berpura-pura bertingkah laku seperti benda tertentu, situasi tertentu, atau orang tertentu, dan binatang tertent, yang ada dalam dunia nyata tidak dilakukan.
Dalam kehidupan anak TK bermain pura-pura mempunyai beberapa fungsi, antara lain untuk: menghindari keterbatasan kemampuan yang ada, mengatasi larangan-larangan, dan menjadi pengganti beberapa hal yang tidak terpenuhi, menghindarkan diri dari hal-hal yang menyakitkan hati, menyalurkan perasaan negative yang tidak mungkin dapat ditampilkan.
c.       Bermain dengan cara membangun atau menyusun
Bermain dengan cara membangun atau menyusun ini akan mengembangkan kreativitas anak. Setiap anak akan menggunakan imajinasinya membentuk suatu bangunan mengikuti daya khayalnya. Dan kemampuan masing-masing anak dalam kegiatan ini sangat bervariasi.
Kegiatan menggambar dapat dikelompokan dalam bermain membangun atau menyusun. Dalam kegiatan menggambar anak menggunakan pensil berwarna dan kertas gambar misalnya untuk membangun rumah, jembatan, hewan secara grafis. Salah satu cara yang banyak dilakukan anak untuk menyalurkan dorongan yang menggebu-gebu adalah dengan menggambar. Salah satu fungsi menggambar yang terpenting bagi anak adalah untuk menyalurkan perasaan dan bukan untuk menciptakan keindahan. Hasil akhir kurang penting jika dibandingkan dengan proses menciptakan itu sendiri. karena itu semakin anak mampu membedakan pengamatannya, makin menurun kemampuan anak untuk menggambar secara kreatif.
Menggambar merupakan ekspresi segala sesuatu yang muncul dalam kesadaran anak pada saat itu. Gambar yang diekspresikan bersifat simbolik dan bukan tiriuan bendanya sendiri secara langsung. Anak menggambar tentang sesuatu yang ada dalam ingatannya dan tidak memperhatikan aspek perspektif, proporsi maupun hubungan.
d.      Bertanding atau berolah raga
Anak usia TK tertarik bermain dengan anak lain untuk menguji kemampuan dengan kemampuan anak lain. Misalnya bertanding permainan yang sederhana dengan tempo singkat dan atura permainan yang sederhan.
Berbagai pertandingan yang dipilih oleh anak bergantung pada dimensi perkembangannya. Di bawah ini ada beberapa permaianan yang dapat dipertandingkan.
1)      Belajar mendengar dan menguasai kosa kata baru
Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan mendengar dan menguasai kata-kata baru (Hildebrand, 1986: 294). Caranya adalah sebagai berikut. Sebelum pertandingan dimulai guru berkata: “berdiri tegak”, lau anak-anak harus melakukan perintah gurunya.
2)      Belajar mendengar dan mengapresiasikan nada musi
Kegiatan bermain ini untuk mengembangkan kemampuan mendengar dan mengapresiasikan nada musik dengan cara menyenandungkan atau memainkan nada atau irama bagi anak untuk ditebak (Hildebrand, 1986: 296).
3)      Permainan yang menuntut penguasaan anak
Kegiatan ini bias dalam hal menjodohkan, menghitung, bergilir dengan anak lain (sekitar 4 orang). Kegiatan ini terdapat pada permainan kuartet, atau domino.
3.      Kategori Permainan dan Jenis permainan
Pada dasarnya, semua jenis permainan mempunyai tujuan yang sama yaitu bermain dengan menyenangkan. Yang membedakan adalah pengaruh atau efek dari jenis permainan tersebut. Ada dua jenis permainan, yaitu: permainan aktif dan permainan pasif, yang sebaiknya dilakukan dengan seimbang.
a.       Permainan aktif
1)      Permainan olah raga (sport), dalam permainan olah raga anak mengembangkan kemampuan kinestetik dan pengembangan motivasi untuk menunjukan keunggulan dirinya (penekanan bukan pada persaingan tapi pada kemampuan) member kekuatan pada dirinya sendiri serta belajar mengembangkan diri setiap waktu.
2)      Permainan perkelahiaan (body contact), permaianan ini merupakan jenis permainan modifikasi yang menuntut keseriusan anak untuk memenuhi kebutuhan atau kekuasaan. Hal tersebut sehat dan positif bagi anak, berguna untuk menguji keunggulan dan kekuatan di sekitar lingkungan. Jenis permainan ini adalah untuk menguji kemampuan dan pemikiran anak dalam dunia nyata dengan segala akibatnya.
b.      Permainan pasif
1)      Permainan mekanis, seiring perkembangan jaman dan teknologi member pengaruh besar dalam perkembangan jenis permainan untuk anak. Alat teknologi canggih seperti computer bukan lagi milik orang dewasa, tapi telah menjadi barang biasa buat anak-anak. Berbagai games atau permainan virtual telah tersedia di dalamnya (komputer). Bermain dengan computer tidak sama dengan bermain bersama teman, anak bermain sendiri dengan kesenangannya.
·         Sisi positif: anak memiliki keterampilan computer yang akan diperlukan anak sebagai sarana hidupnya.

·         Sisi negative: kurangnya pembentukan sikap anak untuk menerima dan member (take and give). Anak memegang kendali penuh atas ‘teman mainnya’ dan ‘si teman mainnya’ akan melakukan apapun yang diinginkan anak. Kendali penuh ini akan menimbulkan reaksi serius bila anak menyalurkannya dalam pertemanan dilingkungan sosialnya.
a.       Permainan fantasi
Permainan fantasi selain proses kreatif mengembangkan kemampuan sisi otak kanan, juga untuk pembentukan kecerdasan interpersonal (salah satu dari delapan kecerdasan teori multiple intelligence, Howard Garner).
c.       Jenis permainan sensorimotor dan practice play
1)      Permainan fungsional
2)      Permainan konstruktif
3)      Permainan imajinatif
d.      Jenis permainan matematika untuk anak usia dini
Mengenali lambang bilangan dan mengerti konsepnya bias distimulasi ejak usia dini melalui permainan-permainan matematika. Yang paling penting disini permainan itu harus sederhana, menarik, tidak membosankan, tapi malah menggembirakan dan dilakukan bersama-sama. Berikut ini beberapa jenis permainan yang dapat mengasah kognitif dan keterampilan anak dan meningkatkan kemampuannya dalam berhitung:
1)      Membuat lukisan alam
2)      Mencocokan gambar
3)      Membuat alat bunyi-bunyian
4)      Melukis dengan pasir berwarna
5)      Membuat boneka dari stik es krim
6)      Memancing ikan
7)      Dan lain-lain.

2.5            Sarana dan Alat Bermain Anak TK
Dalam membahas sarana/alat bermain berturut-turut akan dibicarakan:
1.      Ruang dan tempat bermain bagi anak taman kanak-kanak.
Dalam penyedian ruang dan tempat bermain perlu memperhatikan tempat kegiatan bermain yang dapat membantu pengembangan dimensi perkembangan anak taman kanak-kanak memerlukan ruang dan tempat umtuk kegiatan (Hildebrand, 1986: 87): kesenian; pengembangan kemampuan ilmu pengetahuan alam; pengembangan bahasa; bermain musik; bermain drama; membangun atau menyusun balok-balok; bermain dengan alat-alat permainan; bermain pertukangan dan pasir.
Tempat dan ruang bermain dibedakan atas: 1) tempat dan ruang didalam kelas, dan 2) tempat dan ruang diluar kelas. Dalam menata lingkungan bermain, perlu diperhitungkan bahwa ruang atau tempat bermain itu bukan hanya untuk seorang anak melainkan untuk kelompok anak. Krictchevsky dan Prescott (Gardon & Browne, 1985: 216) mengemukakan tiga kreteria penggunaan ruang dan tempat bermain:
1)      Ruang sederhana berlaku untuk satu macam kegiatan.
2)      Ruang kompleks berlaku untuk 4 macam kegiatan.
3)      Ruang super berlaku untuk 8 kegiatan (gabungan bermain dengan air dan pasir).

2.      Bahan dan pralatan bermain bagi perkembangan dimensi perkembangan anak taman kanak-kanak.
Behan dan peralatan yang disediakan hendaknya merupakan sumber belajar yang dapat membantu mengembangkan seluruh dimensi perkembangan anak usia TK, yaitu bagi perkembangan motorik, kognitif, bahasa, sosial, perkembangan emosional bagi anak TK.
a.       Bahan dan peralatan bermain bagi perkembangan dimensi perkembangan motorik anak TK. Anak usia TK adalah anak yang selalu aktif. Oleh karena itu sebagian besar alat bermain diperuntukan bagi pengembangan koordinasi gerakan otot kasar. Sebaiknya sekolah memiliki tempat atau ruang khusus untuk aktifitas motorik ini. Penyediaan peralatan untuk melakukan kegiatan bermain dalam ruang banyak tergantung pada luasnya ruuang yang tersedia. Peralatan itu misalnya untuk kegiatan turun naik tangga, ayunan, perosotan, dan sebagainya.
b.      Bahan dan peralatan bermain begi pengembangan kognitif anak usia TK. Kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain: kemampuan mengenal, mengingat, berfikir konvergen, divergen, member penilaian. Bahan dan peralatan apapun yang dibutuhkan sebagaimana terdapat dalam Pedoman Alat Peraga Taman Kanak-kanak (Depdikpud, 1992): papan pasak kecil, papan pasak berjenjang, papn tongkat, warna, menara sangkar bujur sangkar, balok ukur, papan hitung. Di samping itu juga bermacam benda yang ada di sekitar anak TK.
c.       Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan kreativitas anak TK. Kemampuan kreatif yang dapat dikembangkan melalui bermacam ragam kegiatan bermain. Cirri-ciri kreatif sebagaimana telah dikemukakan adalah: kelenturan, kepekaan, penggunaan daya imajinatif, kesediaan mengambil resiko dan menjadikan diri sendiri sebagai sumber dan pengalaman. Melalui kegiatan kesenian dan music misalnya, kegiatan itu memungkinkan anak berfikir dan menemukan berbagai alternative jawaban .
d.      Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan bahasa anak usia TK. Kemampuan berbahasa yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain bertujuan untuk:
1)      Menguasai bahasa reseptif: mendengar dan memahami apa yang didengar (Gordon & Browne, 1985: 308-309), memahami perintah, menjawab pertanyaan, mengikuti urusan peristiwa.
2)      Menguasai bahasa ekspresif yang meliputi. Menguasai kata-kata baru, menggunakan pola bicara orang dewasa.
3)      Berkonikasi secar verbal dengan orang lain. Berbicara sendiri atau berbicara kepada orang lain.
4)      Keasyikan menggunakan bahasa.
Bahan dan peralatan yang dapat dipergunakan dalam kaitan pengembangan keterampilan bahasa ekspresif meliputi benda-benda yang ada di sekitar anakk dengan cara menyebutkan nama kata benda. Dalam kaitan penguasaan cara berkomunikasi dengan orang lain dilaksanakan melalui kegiatan drama.
e.       Bahan dan peralatan bagi pengembangan sosial anak usia TK. Kemampuan sosial yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain yang bertujuan untuk membina hubungan dengan anak lain dan belajar bertingkah laku yang dapat diterima dan sesuai dengan harapan anak lain. Bahan dan peralatan yang dapat digunakan untuk kegiatan ini adalah kuda-kudaan , sepeda roda, buku cerita, dan sebagainya.
f.       Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan emosi anak usia TK. Misalkan dengan memelihara hewan piaraan. Kegiatan ini akan menumbuhkan perasaan sayang, kehendak memberikan perawatan dan perlindungan.

2.6            Cara Memilih, Menggunakan dan Merawat Peralatan Bermain Anak Taman Kanak-kanak
1.      Cara memilih bahan dan peralatan bermain
Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dan peralatan bermain (Gordon & Browne, 1985: 214):
a.       Memilih bahan untuk kegiatan bermain yang mengundang perhatian semua anak.
b.      Memilih bahan yang multiguna.
c.       Memilih bahan yang dapat memperluas kesempatan anak untuk menggunakannya dengan bermacam cara.
d.      Memilih bahan yang sesuai dengan usia anak.
e.       Memilih bahan yang berkualitas, dan keterampilan kerja yang berguna.
f.       Memilih bahan dan peralatan yang tahan lama.
g.      Memilih bahan yang mudah dirawat dan mudah diperbaiki.
h.      Memilih bahan yang tidak membedakan jenis kelamin dan tidak meniru-niru.
i.        Memilih bahan yang fleksibel, dan serba guna.
2.      Cara menggunakan bahan dan peralatan bermain
Bahan dan peralatan bermain dapat dipergunakan secara tidak terbatas. Suatu bahan dapat dipergunakan dalam bentuk dasarnya, tetapi juga dapat atau dipergunakan dengan berbagai cara. Bila pengadaan bahan dan peralatan bermain itu ditunjukan untuk kelompok anak usia TK, maka penggunaannya harus diatur sedemikian rupa agar setiap anak mendapat kesempatan atau giliran.
3.      Cara merawat bahan dan peralatan bermain
a.       Bahan atau peralatan di luar kelas
-          Untuk menjaga kebersihan dan tetap dapat digunakan, maka diperlukan tempat penyimpanan bagi alat permainan yang berada diluar kelas seperti kendaraan beroda, balok-balok, dan pasir.
-          Untuk menjaga sepetak tanah yang dipergunakan untuk kegiatan berkebun tetap terpelihara dari kerusakan maka lahan itu dapat dibatasi oleh tanaman hidup atau pagar.
b.      Bahan atau peralatan bermain di dalam kelas
Dalam setiap setelah kegiatan kita sebagai pendidik harus mengajarkan anak bagaimana cara untuk membereskan dan merawat permainan yang telah digunakan.


2.7            Rancangan Kegiatan Bermain
Rancangan kegiatan bermain meliputi penentuan tujuan dan tema kegiatan bermain; macam kegiatan bermain; tempat dan ruang bermain; bahan dan peralatan bermain, dan urutan langkah bermain.
1.      Menentukan tujuan dan tema kegiatan bermain
Tujuan kegiatan bermain bagi anak usia TK adalah untuk meningkatkan pengembangan seluruh aspek perkembangan anak usia TK baik perkembangan motorik, kognitif, bahasa, kreativitas, emosi, atau sosial.
Tujuan bermain: setelah anak-anak melakukan kegiatan bermain anak dapat menguasai cara:
-          Menghindari pertentangan,
-          Berbagi kesempatan atau giliran,
-          Menuntut hak dengan cara yang dapat diterima,
-          Mengkomunikasikan keinginan yang dapat diterima, dan seterusnya.
Tema bermain: sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan ttersebut, ditentukan tema kegiatan makan dan minum termasuk tata tertib makan dan minum.
2.      Menentukan macam kegiatan bermain
Setelah ditentukan tujuan dan tema bermain selanjutnya ditentukan mecam kegiatan bermain yang cocok dengan tujuan dan tema tersebut. Sesuai dengan usia  anak TK dan kegemarannya maka bermain pura-pura atau imajinatif sangat cocok bagi mereka.
3.      Menentukan tempat dan ruang bermain
Tempat dan ruang bermain dapat dilakukan didalam dan di luar ruangan.
4.      Menentukan bahan dan peralatan bermain
Sebelum melakukan kegiatan bermain, bermacam bahan dan peralatan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai perlu dipersiapkan telebih dahulu secara lengkap. Selama melakukan kegiatan bermain guru tidak lagi mencari bahan atau perlengkapan yang belum tersedia, agar kegiatan bermain berlangsung tanpa hambatan yang berarti.
5.      Menentukan langkah urutan bermain



2.8             Pelaksanaan Kegiatan Bermain
Langkah-langkah kegiatan bermain melalui urutan sebagai berikut ini :
a)      Kegiatan pra bermain
b)      Kegiatan bermain
c)      Kegiatan penutup
Dalam hal ini , kegiatan makan dalam suatu keluarga dijadikan tema kegiatan dengan   demikian langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a)      Kegiatan pra bermain
Ada dua macam persiapan dan kegiatan pra bermain :
1)      Kegiatan penyiapan siswa dalam melaksanakan kegiatan bermain :
a.       Guru mengkomunikasikan kepada siswa tujuan kegiatan bermain ini
b.      Guru mengkomunikasikan batasan-batasan yang harus dipatuhi siswa
c.       Guru menawarkan peran kepada masing-masing anak untuk disepakati sebagai ayah,ibu,anak atau yang lainnya
d.      Guru memperjelas apa yang harus dilakukan peran ayah,ibu,anak dan sebagainya

2)      Kegiatan penyiapan bahan dan peralatan yang siap untuk dipergunakan :
a.       Menyiapkan meja  makan dengan bahan dan peralatan yang diperlukan
b.      Mencuci tangan
c.       Mengeringkan tangan
b)      Kegiatan bermain
       Kegiatan bermainnya itu sendiri meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Semua anggota keluarga menuju ke tempat cuci tangan untuk mencuci tangan dengan tertib bergiliran menggunakan bahan dan peralatan cuci tangan dengan tidak berebutan
2.      Dengan bimbingan guru anak bergiliran mengeringkan tangan mereka
3.      Menuju ke meja makan dengan tertib dan menarik kursi tempat duduk masing-masing
4.      Yang berperan sebagai ayah memimpin pembacaan doa
5.      Dengan bimbingan guru anak mulai melaksanakan peran masing-masing mengambil nasi dan lauk pauk secara bergiliran dan tertib
6.      Selama makan anak diperbolehkan menyatakan keinginannya sesuai batasan-batasan yang sudah di komunikasikan guru
7.      Bila kegiatan makan berakhir diikuti pembacaan doa oleh anak yang berperan sebagai ayah
8.      Kegiatan akhir makan yang masih harus dilakukan adalah  merapikan kembali meja makan

c)      Kegiatan penutup
Dalam kegiatan penutup , kegiatan bermain itu guru dapat melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :
1.      Menarik perhatian dan membangkitkan minat anak tentang aspek-aspek penting dalam mencuci tangan seperti hemat dalam menggunakan air , penggunaan alat mencuci dalam kaitan anak lain , mengeringkan air di tangan.
2.      Menghubungkan pengalaman anak dalam makan bersama dirumah dan makan bersama disekolah , misalnya ketentuan yang harus ditaati pada waktu makan tidak boleh bicara pada waktu mulut penuh makanan , tidak boleh bersendawa , tidak boleh berkecap waktu mengunyah makan , dan lain-lain.
3.      Menunjukan aspek-aspek penting dalam makan bersama.
4.      Memahami seberapa dalam penghayatan anak dalam kegiatan makan bermain bersama.misalnya belajar untuk berbagi kesempatan dan giliran dalam mengambil lauk pauk atau nasi atau mengkomunikasikan keinginan untuk memperoleh sesuatu sesuai tata tertib makan.































 














BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian (Interview Klinis)
Didalam sebuah penelitian diperlukan metode khusus yang dianggap relefan dan membantu memecahkan persoalan dalam penelitian. Metode penelitian adalah sebuah cara untuk memperoleh pengetahuan atau pemecahan suatu persoalan yang sedang dihadapi, dan dilakukan secara ilmiah, sistematis, serta logis.
Berdasarkan masalah penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif agar memperoleh pemehamam yang menyeluruh utuh dan mendalam tentang fenomena yang diteliti. Peneliti menggunakan teknik wawancara. Subjek yang di teliti adalah murid-murid TK/RA Alif.

3.2  Teknik Pengumpulan Data dan Pengolahan Data
3.2.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Observasi yang dikumpulkan dengan cara wawabcara kepada guru pengajar TK/RA Alif, orang tua murid, dan murid-murid TK/RA Alif.
3.2.2 Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan menganalisis data, peneliti membagi penganalisisan kedalam tiga tahap pengejaan, yaitu :
1.Proses pengumpulan data hasil wawancara di RA Alif, Cipageran .
2.Menganalisis data dari jawaban narasumber .
3.Menyimpulkan hasil data wawancara (interview klinis) Yang kami lakukan di RA Alif.

3.3         Sumber Data Penelitian
3.3.1 Sumber Data
            Sumber yang kami gunakan dalam pengumpulan data berasal data wawancara (interview klinis) di RA Alif. Dari wawancara tersebut kami memperoleh jawaban dari dua pengajar di RA tersebut yang cukup mewakili hasil penelitian dari rumusan masalah yang kami ajukkan.

3.4 Instrumen Penelitian
            “intrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mempermudah dirinya dalam melaksanakan tugas mengumpulkan data” (Arikunto, 1993: 153) instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrument utama. Instrument pendukungnya beruba wawancara.


 3.4.1 Format Wawancara
            Pertanyaan yang kami lampirkan dalam wawancara adalah sebagai berikut:
3.4.2.1 Wawancara Kepada Pengajar
1.  Metode permainan seperti apa yang digunakan di RA Alif?
  …………………………………………………………………………………………………
2.  Cara pembelajaran seperti apa yang ditetapkan di RA Alif?
  …………………………………………………………………………………………………
4.   Biasanya cara belajar seperti apa yang paling tepat untuk menumbuhkan keberanian pada  anak?
……………………………………………………………………………………………....
5.   Cara bermain apa yang paling efektif digunakan, untuk membantu perkembangan fisik anak?
………………………………………………………………………………………………
6.   Permainan apa yang paling efektif digunakan untuk membantu perkembangan otak anak?
….…………………………………………………………………………………………
7.   Permainana apa yang paling efektif untuk membantu perkembangan sosioemosional pada anak?
………………………………………………………………………………………………
8.   Permasalahan seperti apa yang biasanya sering terjadi pada anak?
..……………………………………………………………………………………………..
9.   Adakah anak yang sulit menerima pembelajaran?, apa penyebabnya?
     ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

3.4.2.2 Wawancara Kepada Orang Tua
1.      Bagaimana pembelajaran di RA Alif terhadap anak ibu ?
………………………………………………………………………………………………
2.      Apa perubahan yang dirasakan terhadap perkembangan anak anda setelah masuk d RA Alif ?
………………………………………………………………………………………………
3.      Apa perbedaan RA Alif dengan yang lain. Menurut ibu ?
……………………………………………………………………………………………....
4.      Apa bentuk pembelajaran yang paling efektif menurut ibu ?
……………………………………………………………………………………………....
5.      Prestasi apa yang dicapai anak setelah masuk di RA Alif ?
………………………………………………………………………………………………
                                  











 















BAB VI
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASANNYAl

4.1 DESKRIPSI DATA
            Deskripsi data berisikan data yang sudah ditentukan dan dianggap mewakili pembahasan keseluruhan data.
4.1.1 Sumber Data Penelitian
            Data yang kami dapatkan berasal dari wawancara kepada kepala sekolah R.A Alif, staf pengajar/guru, dan beberapa orang tua murid R.A Alif, Cimahi Bandung.
4.1.1.1 Sumber Data ke-1
1.      metode: lagu, praktek pembentukan karakter  peran, acting.
2.      cara pembelajaran : buku paket, matematika, sains, sesi Tanya jawab, tebak-tebakan.
3.      cara tepat menumbuhkan keberanian anak : perkembangan karakter sesuai tema yang ada.
4.      cara efektif menumbuhkan perkembangan fisik anak : dengan gerak dan permaianan lagu, olah tubuh, dan senam
5.      permainan efektik untuk perkembangan otak anak : permainan kelompok, kerjasama.
6.      permainan efektif untuk perkembangan sosioemosional anak : bercerita, berhitung.
7.      permasalahan yang sering terjadi : mogok belajar.
8.      ada anak yang sulit menerima pelajaran : ya, penyebabnya adanya suatu masalah dari rumah yang dibawa kesekolah.

4.1.1.2 Sumber Data ke-2
1.      metode : peran, pembentukan karakter, akting, bercerita, praktek, bernyanyi.
2.      cara pembelajaran : tebak-tebakan, sesi tanya jawab.
3.      perkembangan karakter sesuai tema sehari-hari.
4.      cara bermain efektif : stimulus permainan fisik motorik kasar / halus
5.      permainan efektif yang digunakan untuk membantu perkembangan otak anak : melalui permaianan puzzle
6.      pemainan efektif untuk membantu perkembangan sosio emosional anak : mengenalkan aturan-aturan permainan (membuang sampah pada tempatnya).
7.      Permasalahan yang sering terjadi :  karakter egocentris kadang akan membuat tidak nyaman.
8.      ada anak yang sulit menerima pelajaran : Ya, gara-gara si anak mempunyai masalah dari rumah dan masalah itu akan terbawa-bawa ketika belajar dikelas.

4.1.1.3 Sumber Data ke-3
1.      Metode : bermain peran, menebak benda, bernyanyi.
2.      cara pembelajaran : menggunakan buku paket (sains, matematika), bercerita dan tebak-tebakan
3.      cara tepat menumbuhkan keberanian anak : bercerita pengalaman pribadinya,.
4.      cara bermain efektif : bermian outdoor, olahraga (seperti bermain bola, senam).
5.      permainan efektik untuk perkembangan otak anak : Bermain tebak-tebakan, bermain puzzle.
6.      permainan efektif untuk perkembangan sosioemosional anak : bermain peran dan actinig.
7.      Permasalahan yang sering terjadi :  anak tidak mau sekolah / belajar, broken home, masalah dengan temannya, tidak mau lepas dari orang tuanya.
8.      ada anak yang sulit menerima pelajaran : Ya, penyebabnya biasanya anak memendam perasaannya, karena masalah dirumahnya.

4.1.1.4 Sumber Data ke-4
1.   Pembelajaran di RA ALIF : Bagus dan membantu perkembangan positif anak saya.
2.   Perubahan yang dirasakan terhadap perkembangan anak anda setelah masuk RA ALIF: Lebih percaya diri untuk tampil didepan umum
3.   Perbedaan RA ALIF dengan yang lain : Keagamaannya lebih dominan.
4.   Pembelajaran yang paling efektif : Proses belajarnya sambil bermain.
5.   Prestasi yang dicapai setelah masuk RA ALIF : Juara lomba mewarnai dan menggambar.

4.1.1.5 Sumber Data ke-5
1.      Pembelajaran di RA ALIF : Sangat bagus dan membantu perkembangan anak saya.
2.      Perubahan yang dirasakan terhadap perkembangan anak anda setelah masuk RA ALIF : Berbeda sekali dengan sebelum masuk RA ALIF dan lebih percaya diri.
3.      Perbedaan RA ALIF dengan yang lain : Pembelajaran keagamaannya lebih banyak
4.      Pembelajaran yang paling efektif : belajar yang disertai dengan bermain.
5.      Prestasi yang dicapai setelah masuk RA ALIF : Juara membaca iqra.

4.2 Analisis Data
4.2.1 Analisis Data ke-1
Data
1.      metode: lagu, praktek pembentukan karakter  peran, acting.
2.      cara pembelajaran : buku paket, matematika, sains, sesi Tanya jawab, tebak-tebakan.
3.      cara tepat menumbuhkan keberanian anak : perkembangan karakter sesuai tema yang ada.
4.      cara efektif menumbuhkan perkembangan fisik anak : dengan gerak dan permaianan lagu, olah tubuh, dan senam
5.      permainan efektik untuk perkembangan otak anak : permainan kelompok, kerjasama.
6.      permainan efektif untuk perkembangan sosioemosional anak : bercerita, berhitung.
7.      permasalahan yang sering terjadi : mogok belajar.
8.      ada anak yang sulit menerima pelajaran : ya, penyebabnya adanya suatu masalah dari rumah yang dibawa kesekolah.


Analisis Data
Responden selaku kepala sekolah di RA ini menerapkan metode permainan berupa lagu, praktek, pembentukan karakter, perandan acting.Sedangkan untuk cara pembelajarannya, responden menggunakan  buku praktek untuk mata pelajaran matematika dan sains, cara pembelajaran lainnya diadakan sesitanya jawab dan tebak-tebakan .
Responden berpendapat jika belajar yang paling tepat untuk menumbuhkan keberanian pada anak adalah melalui pengembangan karakter sesuai dengan karakter yang dimiliki anak.
Responden juga mengungkapkan jika senam, gerak dan permainan lagu, lalu olah tubuh sangat efektif untuk menumbuhkan perkembangan fisik anak.
Dari aspek perkembangan otak anak, Responden juga memilki permainan yang efektif seprti berkelompok atau kerjasama. Sedang dari aspek sosio-emosional responden beranggapan jika bercerita dan berhitung merupakan metode yang paling efektif.
Responden pun tidak lepas dari permasalahan saat dikelas, Responden pernah mengalami permasalahan-permasalahan seperti anak-anak yang tiba-tiba mogok belajar, dan salah satu penyebabnya adalah karena anak mempunyai masalah dari rumahnya dania bawa ketika belajar.

4.2.2 Analisis Data ke-2
Data
1.      metode : peran, pembentukan karakter, akting, bercerita, praktek, bernyanyi.
2.      cara pembelajaran : tebak-tebakan, sesi tanya jawab.
3.      perkembangan karakter sesuai tema sehari-hari.
4.      cara bermain efektif : stimulus permainan fisik motorik kasar / halus
5.      permainan efektif yang digunakan untuk membantu perkembangan otak anak : melalui permaianan puzzle
6.      pemainan efektif untuk membantu perkembangan sosio emosional anak : mengenalkan aturan-aturan permainan (membuang sampah pada tempatnya).
7.      Permasalahan yang sering terjadi :  karakter egocentris kadang akan membuat tidak nyaman.
8.      ada anak yang sulit menerima pelajaran : Ya, gara-gara si anak mempunyai masalah dari rumah dan masalah itu akan terbawa-bawa ketika belajar dikelas.

Analisis Data
            Responden dari TK/RAAlif menerapkan metode bermain peran, pembentukan karakter, acting, bercerita, praktek, bernyanyi. Sedangkan untuk pembelajarannya, responden menggunakan sesi tannya jawab dan tebak-tebakkan. Responden berpendapat, jika cara bermain yang paling efektif digunakan untuk bermain membantu perkembangan fisik anak yaitu stimulus permainan fisik motorik kasar dan halus seperti bermain bola dan puzzle sangat efektif untuk membantu perkembangan otak anak. Permasalahan yang sering terjadi di RA Alif yaitu karakteristik egosentris kadang akan membuat tidak nyaman. Responden mengutarakan jika ada anak yang mengalami kesulitan belajar. Hal itu dikarenakan anak itu mengalami masalah yang ia bawa ke sekolah dari rumah.

4.2.3 Analisis Data ke-3
Data
1.      Metode : bermain peran, menebak benda, bernyanyi.
2.      cara pembelajaran : menggunakan buku paket (sains, matematika), bercerita dan tebak-tebakan
3.      cara tepat menumbuhkan keberanian anak : bercerita pengalaman pribadinya,.
4.      cara bermain efektif : bermian outdoor, olahraga (seperti bermain bola, senam).
5.      permainan efektik untuk perkembangan otak anak : Bermain tebak-tebakan, bermain puzzle.
6.      permainan efektif untuk perkembangan sosioemosional anak : bermain peran dan actinig.
7.      Permasalahan yang sering terjadi :  anak tidak mau sekolah / belajar, broken home, masalah dengan temannya, tidak mau lepas dari orang tuanya.
8.      ada anak yang sulit menerima pelajaran : Ya, penyebabnya biasanya anak memendam perasaannya, karena masalah dirumahnya.

Analisis Data
            Responden dari guru bahwa metode bermain di RA.Alif menggunakan system bermain peran, menebak benda, dan bernyanyi. Sedangkan cara pembelajarannya responden menggunakan buku paket untuk mata pelajaran sains dan matematika . responden berpendapat jika cara belajar yang paling efektif untuk menumbuhkan keberanian anak adalah dengan cara anak bercerita pengalaman pribadinya. responden juga menggungkapkan bahwa cara bermain yang paling efektif untuk perkembangan fisik anak adalah dengan diadakannya kegiatan outdoor, olahraga seperti bermain bola dan senam. bermain tebak-tebakan dan menyusun puzzle menurut responden merupakan kegiatan efektif yang membantu perkembangan otak anak. sementara dari perkembangan sosioemosional responden beranggapan bermain peran/acting merupakan cara paling efektif responden juga tidak terlepas dari masalah yang sering terjadi pada anak seperti anak tidak mau sekolah, anak yang broken home, ada masalah dengan temannya, jugan anak yang tidak mau lepas dari orang tuanya. Hal itu disebabkan permasalahan yang dipendam dan dibawa dari rumahnya.

4.2.4 Analisis Data ke-4
Data
1.      Pembelajaran di RA ALIF : Bagus dan membantu perkembangan positif anak saya.
2.      Perubahan yang dirasakan terhadap perkembangan anak anda setelah masuk RA ALIF : Lebih percaya diri untuk tampil didepan umum
3.      Perbedaan RA ALIF dengan yang lain : Keagamaannya lebih dominan.
4.      Pembelajaran yang paling efektif : Proses belajarnya sambil bermain.
5.      Prestasi yang dicapai setelah masuk RA ALIF : Juara lomba mewarnai dan menggambar.



Analisis Data 
Responden dari orang tua murid RA.Alif sangat bagus dan perubahan terlihat dari anak saya. Pengaruhnya terlihat berbeda sekali dengan sebelum masuk RA.Alif , anak lebih percaya diri. Pembelajaran di TK.Alif lebih memperdalam agama, kegiatan belajar yang disertai dengan bermain , sehingga TK.Alif menjuarai membaca iqro .

4.2.5 Analisis Data ke-5
Data
1.      Pembelajaran di RA ALIF : Sangat bagus dan membantu perkembangan anak saya.
2.      Perubahan yang dirasakan terhadap perkembangan anak anda setelah masuk RA ALIF : Berbeda sekali dengan sebelum masuk RA ALIF dan lebih percaya diri.
3.      Perbedaan RA ALIF dengan yang lain : Pembelajaran keagamaannya lebih banyak
4.      Pembelajaran yang paling efektif : belajar yang disertai dengan bermain.
5.      Prestasi yang dicapai setelah masuk RA ALIF : Juara membaca iqra.

Analisis Data
Responden dari orang tua murid RA.Alif, bahwa pembelajarannya membantu perkembangan anaknya, dan system pembelajaran yang diajarkan itu bagus. Pengaruh terhadap perkembangan anak lebih menjadi percaya diri untuk tampil didepan umum. RA.Alif memiliki karakteristik pembelajaran yang mendominasi terhadap pelajaran keagamaannya. Responden berpendapat bahwa metode yang diterapkan di RA.Alif yaitu bernyanyi dan bermain peran. Prestasi yang telah dicapai yaitu juara lomba mewarnai dan menggambar.




4.4 Analisis Unsur Data Pada Wawancara
4.4.1 Analisis Wawancara Terhadap Pengelola dan Staf Pengajar
4.4.4.1 Penerapan Metode Permainan
Pertanyaan pertama kami ajukan melalui wawancara tertutup / (interview terstuktur) adalah metode permainan yang diterapkan di RA. Alif. Metode pembelajaran yang diterapkan oleh staf  pengajar RA. Alif yaitu dengan bermain peran yaitu untuk pembentukan karakter anak sesuai tema pembelajarannya, metode bermain peran, pembentukan karakter, bercerita, praktek, bernyanyi dan menebak benda.
Definisi pentingnya bermain diungkapkan oleh beberapa ahli. Catron dan Allen (1999) menyatakan bahwa energy berlebih, energy ini mendorong anak untuk melakukan aktifitas sehingga anak terbebas dari perasaan tertekan. Definisi tersebut berarti bahwa anak perlu mengekspresikan pengetahuannya tentang dunia melalui interaksi dan anak perlu melepaskan desakan energy dan mengambangkan rasa percaya diri.



No
Pengajar
Metode Permainan
Peran
Pembentukan Karakter
Menebak Benda
Bercerita
Praktek
Bernyanyi
1
Kepala Sekolah


2
Guru I(TK A)

3
Guru II(TK B)




4.4.4.2 Cara Pembelajaran yang Diterapkan
            Pertanyaan kedua yang kami ajukan pada saat wawancara adalah mengenai cara pembelajaran yang diterapkan baik oleh guru maupun kepala sekolah di RA Alif. Cara pembelajaran yang diterapkan diantaranya penggunaan buku paket, sesi tanya jawab dan tebak-tebakan.
No
Pengajar
Cara Pembelajaran
Penggunaan buku paket
Tanya-jawab
Tebak-tebakan
Bercerita
1
Kepala Sekolah

2
Guru I(TK A)


3
Guru II(TK B)




Pengelompokan cara embelajaran yang dierapkan di RA. Alif digambarkan sebagai berikut :
KELAS
No.
A
No.
B
1
Buku panduan
1
Buku panduan
2
Tebak-tebakan
2
Tebak-tebakan
3
Mengenalkan matematika dasar
3
Mengenalkan matematika dasar
4
Tanya jawab
4
Tanya jawab
5
Bercerita
5
Bercerita
6
Kegiatan didalam ruanga
6
Kegiatan didalam ruanga
7
Kegiatan diluar ruaga
7
Kegiatan diluar ruaga


4.4.4.3 Cara Belajar yang Paling Tepat
. Cara Pembelajaran yang Diterapkan di RA Alif
            Pertanyaan kedua yang kami ajukan pada saat wawancara adalah mengenai cara pembelajaran yang diterapkan baik oleh guru maupun kepala sekolah di RA Alif. Cara pembelajaran yang diterapkan diantaranya penggunaan buku paket, sesi tanya jawab dan tebak-tebakan.


No
Pengajar
Cara Pembelajaran
Penggunaan buku paket
Tanya-jawab
Tebak-tebakan
Bercerita
1
Kepala Sekolah

2
Guru I(TK A)


3
Guru II(TK B)



4.4.4.4 Permainan yang Efektif untuk Perkembangan Fisik
            Pertanyaan keempat yang kami ajukan pada saat wawancara adalah mengenai bagaimana cara untuk meningkatkan perkembangan fisik pada anak-anak. Cara yang diungkapkan para responden cukup beragam. Cara untuk meningkatkan perkembangan fisik pada anak menurut para pengajar adalah dengan permainan lagu, olah raga, permainan fisik motorik kasar/halus, dan bermain outdoor.
Cara permainan yang efektif untuk perkembangan fisik pada tumbuh kembang anak prasekolah yang digunakan di RA. Alif yaitu dengan olah tubuh yang mengaktifkan fisik motorik kasar pada anak melalui olah raga (seperti senam), bermai diluar ruangan (outdoor). Untuk kegiatan outdoor RA. Alif mengadakan kegiatannya satu bulan sekali. Selain kegiatan outdoor yang membantu pada perkembangan fisik, maka kegiatan ini juga membantu perkembangan kognitif anak.
No
Pengajar
Cara untuk Meningkatkan Perkembangan Fisik pada Anak
Permainan lagu
Olah raga
Permainan fisik motorik
Bermain
1
Kepala sekolah


2
Guru I(TK A)



3
Guru II(TK B)




4.4.4.5 Permainann yang Membantu Perkembangan Otak
Penerapan di RA. Alif untuk permainan yang membantu perkembangan otak yaitu dengan bermain tebak-tebakan, puzzle, pemainan yang menumbuhkan kerjasama, dll.
Kegiatan bermain dapat menstimulasi otak secara seimbang, karena pada saat bermain seluruh pikiran, tubuh, dan spirit ikut terlibat dan anak merasa aman secara fisik dan emosional. Bagian otak kiri dan kanan pun dapat terstimulasi secara seimbang sehingga memudahkan anak untuk belajar berbagai hal yang berhubungan dengan pola pikir otak kiri yang bersifat ligis, teratur dan sistematis. Pola pikir otak kanan yang bersifat holistic, imajinatif, dan inofatif.
Pertanyaan kelima yang kami ajukan pada saat wawancara adalah mengenai permainan efektif yang dapat berpengaruh pada perkembangan otak seorang anak. Para responden berpendapat jika jenis atau bentuk permainan yang dapat berpengaruh pada perkembangan otak seorang anak adalah permainan kelompok yang dapat menimbulkan kerjasama satu sama lainnya, bermain puzzle, dan bermain tebak-tebakan.
            Dalam pemilihan permainan untuk meningkatkan perkembangan otak ini juga, para responden berpendapat jika permainan haruslah disesuaikan dengan usia peserta didik tersebut. Semakin usia bertambah, maka permainan yang diberikan akan semakin beragam dan memiliki tingkatan kesulitan yang lebih dari sebelumnya.

No
Pengajar
Permainan untuk meningkatkan perkembangan otak anak
Permainan kelompok
Bermain Puzzle
Tebak-tebakan
1
Kepala sekolah


2
Guru I(TK A)


3
Guru II(TK B)



4.4.4.6 Permainan yang Membantu Perkembangan Sosioemosional
            Pertanyaan kelima yang kami ajukan pada saat wawancara adalah mengenai permainan efektif yang dapat berpengaruh pada perkembangan otak seorang anak. Para responden berpendapat jika jenis atau bentuk permainan yang dapat berpengaruh pada perkembangan otak seorang anak adalah permainan kelompok yang dapat menimbulkan kerjasama satu sama lainnya, bermain puzzle, dan bermain tebak-tebakan.
            Dalam pemilihan permainan untuk meningkatkan perkembangan otak ini juga, para responden berpendapat jika permainan haruslah disesuaikan dengan usia peserta didik tersebut. Semakin usia bertambah, maka permainan yang diberikan akan semakin beragam dan memiliki tingkatan kesulitan yang lebih dari sebelumnya.

No
Pengajar
Permainan untuk meningkatkan perkembangan otak anak
Permainan kelompok
Bermain Puzzle
Tebak-tebakan
1
Kepala sekolah


2
Guru I(TK A)


3
Guru II(TK B)



4.4.4.7 Permasalahan yang Terjadi Pada Saat Belajar
            Penerapan di RA. Alif untuk permainan yang membantu perkembangan sosioemosional yaitu dengan bermain peran atau acting karena dengan bermain peran dan acting anak dapat mendapatkan stimulus untuk bisa lebih dekat untuk berinteraksi dengan teman dikelasnya. Berperan dan bermain acting dapat menumbuhkan kepercayaan diri agar anak tidak malu untuk tampil dimuka umum juga membiasakan anak untuk belajar mengontrol emosinya agar tidak egois.
4.4.4.8 permasalahan yang seing terjadi pada saat belajar
            Masalah yang sering terjadi pada RA.Alif, pada anak saat belajar di RA.Alif penyebabnya yaitu permasalahan dari rumah yang di bawa oleh anak kesekolah menjadikan anak tidak konsen untuk belajar sehingga dapat mengganggu kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi anak yang lainnya. Biasanya hapir seluruh anak jika ada masalah dari rumah selalu dibawa ke sekolahnya.



















 
















RIWAYAT HIDUP PENULIS
Annisa anak kesatu dari dua bersaudara. Lahir di Bandung pada tanggal 21 Maret 1993 Perempuan yang akrab disapa Anis ini sejak kecil bertempat tinggal dan menumpuh pendidikan di kota Bandung. Dia bertempat tinggal di Gegerkalong, Jln.Picung No 36 176/A.
Anak kesatu dari dua bersaudara ini sangat menyukai memasak dan jalan-jalan. Dia memulai pendidikan dari usia 6tahun, yaitu di TK.Giki Bdg, SDN.Sukarasa 3,4,5 Bdg, SMP.Angkasa Bdg, SMA. Angkasa Bdg.
Sejak SMA dia mengikuti exstrakulikuler Mading, pada saat lulus SMA dia langsung mengikuti tes SNMPTN ke Universitas Pendidikan Indonesia dan tidak lolos, lalu dia mengikuti tes UM ke Universitas Pendidikan Indonesia dan hasilnya diterima di Universitas Pendidikan Indonesia mengambil jurusan PG.PAUD. dia memilih jurusan tersebut karena dia menyukai anak-anak, ingin menjadi guru yang professional bermanfaat bagi anak usia dini .








RIWAYAT HIDUP PENULIS
Azmi Noor Ramdhayani, anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Bandung pada tanggal 24 Maret 1991 perempuan yang akrab disapa Ami ini sejak kecil bertempat tinggal dan menempuh pendidikan di kota Bandung. Dia bertempat tinggal di Cijerah II Blok 10 gg Tanjung3 No.95, Cimahi Selatan
Anak kedua dari tiga bersaudara ini sangat menyukai music dan wisata kuliner. Dia memulai pendidikan dari usia 5tahun, yaitu di TK.Tridaya Bakti Bdg, SD.Percobaan Negri 58 Bdg, SMP Negeri 25 Bdg dan SMA Negeri6 Cimahi. Pada saat lulus SMA ia tidak langsung melanjutkan sekolah keperguruaan tinggi karena tekadnya untuk mencari uang sendiri. Tetapi disamping itu dia sangat senang sekali terhadap anak kecil dan intin menjadi seorang guru TK yang professional. Oleh karena itu dia memutuskan untuk kuliah jurusan PG.PAUD untuk mendalami ilmunya di Universitas Pendidikan Indonesia .








                                               RIWAYAT HIDUP PENULIS
            Heni Kurniati, anak ke tiga dari tiga bersaudara dari pasangan Darsono dan Alis Karmini ini lahir di Bandung pada tanggal 29 Agustus tahun 1993. Perempuan yang akrab disapa Henay ini sejak kecil bertempat tinggal dan menempuh pendidikan di Kota Bandung.
            Penulis menempuh pendidikan di SD Negeri Ciumbuleuit I  Bandung, SMP Negeri 52 Bandung, SMA Pasundan 2 Bandung.
Menjadi wakil ketua di organisasi Paskibra SMP, membuat beliau menjadi aktif dalam bersosial. Menempuh pendidikan di SMA penulis mendapatkan beasiswa dari Perusahaan Jamsostek. Untuk mengisi waktu luang, beliau lebih suka menulis, mendengarkan musik, dan ia juga suka menonton drama korea.
Sempat bercita-cita menjadi Bidan atau Dokter Anak, akhirnya harus puas dengan melanjutkan pendidikan program studi S1 jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia. Namun dengan demikian beliau bercita-cita menjadi Konseling Anak Usia Dini, dan ingin membuat TK untuk anak yang kurang mampu.
Dapat dihubungi melalui e-mail heni290893@yahoo.com, twitter : heniKPCT, facebook : Heni Kurniati C T, serta mengundang untuk mengunjungi blognya di http://henyikuheni.blogspot.com/.

Riwayat Hidup Penulis
Zia Rizqi Mahmudah lahir di Karawang pada tanggal 17 Juni 1993. Ayahnya bernama Drs, Zaenuddin yang berprofesi sebagai guru di sebuah Madrasah Aliyah. Sedangkan ibunya yang bernama Omah Rohmawati berprofesi sebagai guru di sebuah TAAM (Taman Asuh Anak Muslim) di Bandung Barat. Perempuan yang akrab disapa Zia ini, bertempat tinggal di Bukit Permata Cimahi Blok I-3 No. 6, Bandung Barat. Anak pertama dari dua bersaudara ini sangat suka menonton film dan mendengarkan musik. Karena kecintaannya pada musik itulah, dia memiliki hobi bernyanyi. Dia sangat gemar menonton film bergenre romantis.
Ia memulai pendidikannya di TK Nurussalam yang berlokasi di Kota Karawang. Untuk jenjang pendidikan TK B, ia bersekolah di TK Al-Fajar yang berlokasi di Kota Cimahi. Di tingkat sekolah dasar, ia mengenyam pendidikan di SDN Harapan 3. Lalu, ia melanjutkan di SMPN 2 Cimahi. Sedangkan ditingkat sekolah menengah atas, ia melanjutkan di SMA Negeri 3 Cimahi.
Ditngkat perguruan tinggi, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Pendidikan Indonesia. Rasa cintanya pada anak-anaklah yang mendorongnya untuk memilih jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Dia bercita-cita menjadi seorang dosen Pendidikan Anak Usia Dini. Ia juga berkeinginan agar suatu saat bisa memiliki Taman Kanak-kanak sendiri. Hal itu bertujuan agar ia bisa bisa berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa.  


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar